Menjemput Cinta-Nya dengan Buah Ketabahan

Rasa kagum selalu menghampiri akan kesabaran dan ketelatenan Mbak Malika dan Mas Arfan. Tujuh belas tahun menantikan amanah dari Sang Maha Pemberi. Amanah akan kehadiran suara bayi dalam pernikahannya. Kesetiaan, kesabaran, dan yakin akan terkabulnya setiap doa dalam sujudnya, yaitu akan datangnya amanah tersebut. Allah Maha Melihat akan kesungguhan dan kesabaran setiap umat-Nya. Dan Allah mengijabahnya. Setahun yang lalu Mbak Malika dikarunia seorang bayi lelaki yang cukup sehat, lucu, dan menggemaskan. Muhammad Ahda, itulah nama keponakanku itu. Perjuangannya sungguh terbalaskan dengan kehadiran tangisan Ahda. Mata ini pun tak pernah jemu melihat kebahagiaan itu. Allah memang Maha Baik. Setiap perjuangan akan berbuah sesuai dengan yang di perjuangkan. Maa Syaa Allah…

Kehadiran Ahda memberi warna sendiri dalam keluarga kecil Mbak Malika dan Mas Arfan yang telah di bina selama ini. Ujian demi ujian telah dilalui dengan keikhlasan, hingga berbuah kebahagiaan. Namun, ujian itu kini menyelinap dalam kebahagiaan itu. Bagaimana tidak, setiap ada waktu Mas Arfan selalu bermain dengan si kecil Ahda dan selalu menyempatkan waktu bermain sebelum kakinya melangkah untuk menjalankan amanah di tempat lain. Karena saking senangnya, Ahda dilempar ke atas dan digoyang-goyang. Ahda pun tertawa karena dilempar, entah karena senang atau merasa geli. Hingga suatu hari, kegiatan itu terulang di atas tempat tidur dan sesuatu hal yang buruk terjadi. Ahda terlepas dari tangkapan tangan Mas Arfan. Innalillahi…Ahda jatuh.

Awalnya tidak ada yang ditakutkan, setelah kejadian itu, Ahda terlihat baik-baik saja. Hingga malam itu, malam yang tak terlewatkan dengan tangisan Ahda setiap menitnya. Tubuhnya demam tinggi dan sepanjang malam berurai air mata. Entah apa yang dirasa oleh keponakanku ini, aku tidak tega melihatnya, wajahnya yang biasanya berseri-seri, kini lenyap tertutup dengan deraiannya.

“Mbak, yang sabar ya, In Syaa Allah Ahda akan baik-baik saja.” Kugenggam erat tangan wanita hebat yang ada di hadapanku ini.
“Iya dik, mbak akan berusaha kuat, tapi…melihat Ahda seperti ini seluruh jiwa raga ini terasa sakit,” Mbak Malika yang biasanya kuat, untuk kali pertama terlihat lemah.

Setelah ibu menyusul bapak ke pangkuan-Nya, Mbak Malikalah yang merawat dan mencintai denngan sepenuh jiwanya. Bersamanya selalu mengingatku akan hangatnya cinta ibu. Rasa nyaman, lembut dalam bersikap, santun dalam setiap kata yang terucap, dan wajahnya teduh laksana pelangi yang datang di sore hari setelah guyuran air langit berhenti. Itulah Mbak Malika. Beliau sangat konsen dengan dunia anak dan menjadi inspirasi bagiku.
Waktu berputar terasa lambat, padahal detik dan menit berputar seperti biasanya. Hingga suara beduk subuh terdengar dari seberang rumah. Kami pun segera menunaikan Shalat Subuh bergantian agar ada yang menggendong Ahda.

Pagi ini senyuman dari penghuni rumah ini lenyap, hilang. Hanya Mas Arfan yang terlihat tegar, meski aku tahu, beliaupun terasa sakit melihat kondisi Ahda.
Mas Arfan mengendarai mobil menuju rumah sakit seiring mentari terbit dari ufuknya. Ahda langsung ditangani oleh dokter. Dan tiba-tiba…

“Bisa bicara dengan ayah pasien,?” dokter memberi isyarat kepada Mas Arfan agar mengikutinya.
“Sejak kapan putra bapak mengalami hal seperti ini?” pertanyaan yang membuat penasaran pastinya.

Mas Arfan menceritakan kejadian tersebut. Dan dokter menyarankan Ahda untuk melakukan CT scan. Sesuatu hal yang tidak terduga dan membuat Mas Arfan merasa bersalah. Ahda terdiagnosa Shaken baby syndrome, ini disebabkan perdarahan di ruang antar selaput otak. Hal ini akan menghambat pertumbuhannya. Menurut kasus yang pernah terjadi, anak yang terdiagnosis Shaken baby syndrome ringan dapat mengalami kesulitan belajar, gangguan gerak, dan perilaku di kemudian hari, sedangkan untuk kasus berat dapat meninggal, kalaupun sembuh dapat menjadi cacat.
Ya, ini pelajaran berharga bagi kita sebagai orang dewasa. Meski hati merasa bahagia, janganlah terlalu sering bermain dengan melempar anak-anak kita ke atas dengan keras, karena sengaja atau tidak sengaja kepala anak-anak akan terguncang. Ini akan menyebabkan hal yang buruk. Gejala-gelaja tersebut adalah rewel, nafsu makan yang hilang, muntah, lemas, dan tidak sadarkan diri.
Mbak Malika dan Mas Arfan merawat Ahda dengan cinta tulus karena Allah. Menerima ujian ini dengan ikhlas.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. QS.Al Baqarah ayat 214.

 

Cerita ini diilhami dari catatan Dr.Hardiono Pusponegoro, SpA (K)
Referensi Amercan Academy of Pediatrics.

 

 

(Visited 100 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.