Menikmati Masa Remaja Tanpa Bahaya

Aktivitas mengantar jemput anak seringkali membawa saya pada situasi lalu lintas ibukota yang padat. Terutama di pagi hari, saat banyak warga yang memburu waktu-waktu bekerja maupun bersekolah agar tidak terlambat hingga tiba di tempat tujuan. Saya sering terpengarah dengan perilaku para pengendara, utamanya roda dua yang nyaris tidak pernah menyisakan ruang kosong di jalanan. Jikalau ada kemacetan yang mengular, sudah pasti pengendara motor akan meliuk-liuk di antara celah mobil-mobil di depannya. Bagi pengendara yang sudah mahir, kemacetan bisa ditaklukkan dengan berbagai jurus menembus celah sempit. Namun yang cukup mengherankan, beberapa di antara pengendara masih terbilang cukup muda. Bahkan ada yang usianya masih berkisar di bawah 17 tahun, ditandai dengan seragam biru putih yang melekat di badannya. Ironisnya mereka yang masih di bawah umur ini terkadang belum bisa memperkirakan laju kecepatan kendaraannya. Atau juga terkadang mereka belum bisa mengarahkan kendaraannya dengan benar. Diperparah lagi dengan muatan yang berlebihan. Mereka dengan tawa riangnya, seolah tidak menyadari bahaya yang mengintai, bisa membonceng 2-3 orang dengan kisaran usia yang sama. Saya cukup prihatin menyaksikan pemandangan yang demikian. Benar bahwa mereka sudah memenuhi syarat tinggi badan yang cukup untuk mengendarai motor, tetapi bukankah lebih bijak bila menunggu usia yang tepat untuk melakukan hal tersebut?

Dorongan keinginan untuk tampil sebagaimana remaja lainnya bisa menjadi faktor penggerak mereka untuk mengendarai motor tersebut. Ditambah sikap permisif dari orang tuanya membuat anak-anak di bawah umur ini semakin berani untuk melintasi jalanan yang terbilang sangat ramai. Pernah suatu kali saya hendak berbelanja di sebuah minimarket. Saya sangat terkejut saat itu ketika menyaksikan anak-anak yang kira-kira masih berusia 10 tahun memarkir motornya di depan minimarket tersebut. Lebih dari itu, mereka sedang bergerombol sembari masing-masing menyelipkan sebatang rokok di sela-sela jemarinya. Tampaknya mereka bukanlah perokok pemula lagi jika dilihat dari gayanya merokok.

Saya sebagai orang tua dari remaja usia 14 dan 10 tahun berharap adanya ketegasan peraturan pemerintah terhadap pengendara dan perokok di bawah umur. Bagaimanapun masih banyak hak masa kecilnya yang patut dilindungi dari bahaya asap rokok dan bahaya kecelakaan lalu lintas.

Referensi gambar :
http://yvciduri.blogspot.com/2013/08/anak-anak-salah-satu-pelaku-kecelakaan.html

(Visited 6 times, 3 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.