Menenun Kata

Teks didefinisikan sebagai kata-kata atau kalimat yang ditenun untuk menciptakan satu kesatuan yang utuh.

Saya tersihir dengan presentasi Prof. Emi Emilia M.Pd., Ph.D. tentang Penguatan Kecakapan Literasi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan. Materinya berat, apalagi dibawakan oleh seseorang dengan embel-embel profesor. Tersihir “NGERI” karena dibandingkan dengan hasil PISA (programme for international students assessment). Program yang digagas oleh the organisation for economic co-operation and development (OECD). Saya menyimpulkan bahwa masih sangat rendah prestasi siswa Indonesia yang berusia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Terbukti, Indonesia berada di peringkat 57, 61, dan 60 dari 65 negara pada tahun 2009.

Kini saya merasa pemerintah sedang mencari kambing hitam. Meletakkan tanggung jawab sebesar gunung di pundak guru sebagai beban negara masa lalu. Tentu saja pada guru yang sedang mengikuti Simposium Nasional 2018. Guru-guru hebat dari jagad Indonesia. Pemenang Inobel, OSN, dan Gupres. Saya terdiam seribu bahasa. Walaupun bukan menjadi salah satu di antara pemenang itu, saya turut merasakan beban yang akan diemban guru.

Prof Emi mengupas panjang lebar tentang teks. Saya fokus pada salah satu slide tentang asal kata dan arti teks. “Istilah text (teks) berasal dari bahasa Latin yang artinya menenun.” (Christie dan Misson, 1998: 8). Penjelasan berikutnya mengaitkan kata teks dengan tekstil. “Words or sentences woven together to create a single whole.” (Christie dan Misson, 1998: 8).

Teks didefinisikan sebagai kata-kata atau kalimat yang ditenun untuk menciptakan satu kesatuan yang utuh. Menurut saya, Prof Emi terjebak dengan beragam teori. Itu perlu dikaji lebih dalam di tingkat pendidik unggul. Padahal teks itu seperti tekstil. Teks yang baik itu nyaman dipakai atau mudah dipahami. Mempunyai keterkaitan yang kuat antara satu elemen dengan elemen yang lainnya.

Andai guru tidak diberi beban administrasi bertumpuk. Andai guru tidak diizinkan terlalu lama di dalam kelas. Andai guru diberi kewenangan mengelola kelas lebih hidup dan tetangga kelasnya masih enjoy belajar. Maka penggunaan teks diberikan secara variatif agar anak mengetahui bukan sekadar teori tapi lebih dari itu, mampu paham setiap membaca teks apapun.

Menurut saya, seperti pelajaran TIK di kelas-kelas bukan lagi diajarkan dengan teori yang “NJELIMET” tapi langsung aplikatif. Apalagi anak zaman now, smartphone, computer, dan saudara sejenisnya di dunia maya berada dalam genggamannya.

Bisa jadi pengajaran guru-guru kita, sudah ketinggalan zaman. Karena seyogianya anak belajar sesuai kebutuhannya, sesuai minatnya.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://tenuntimor.blogspot.com/2015/03/kain-tenun-ntt-motif-buna-insana.html

(Visited 18 times, 18 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.