Mendampingi Anak di Negeri Sabah

Mendampingi anak-anak di Learning Center Sabah menjadi sangat berarti. Apalagi kali ini adalah kali keenam memfasilitasi belajar dengan mereka. Anak-anak Indonesia di Sabah tetaplah anak Indonesia. Mereka seperti anak-anak umumnya. Riang gembira, belajar bersama. Namun di lain waktu saat polisi Malaysia beroperasi, harus menghindar sejauh mungkin. Karena Polisi Malaysia tidak pandang bulu. Bapak-bapak ilegal, ibu-ibu ilegal, dan anak-anak ilegal pun ditangkap.

Ilegal, menjadi kata yang menakutkan. Tidak memiliki dokumen. Termasuk akte kelahiran karena lahir dari orang tua yang juga tidak memiliki dokumen.

Perjuangan hebat di tanah lain. Malaysia menjadi tujuan mencari nafkah. Membiayai hidup anak istri. Mungkin keluarga besarnya. Namun memorinya tetap jelas untuk mengingat Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya.

Titik air selalu muncul di ujung mata ini manakala menyanyikan bersama lagu-lagu perjuangan terlebih lagu kebangsaan. Kerinduan pada tanah air seperti tak tertahankan walau sebenarnya mereka hanya dengar dari mulut-mulut bapak mamaknya cerita tentang Indonesia yang luar biasa indah.

Indonesia menjadi penghibur hati manakala harus meringkuk di rumah merah karena tertangkap polisi. Indonesia menjadi harapan agar tegar bertahan di negara orang. Walau pemerintah mungkin tidak terlalu peduli pada mereka. Membiarkan berkeliaran karena lapar dan dahaganya. Menutup mata dengan persoalan pelik jumlah penduduk yang terus meningkat. Menutup telinga dari suara-suara gaduh kesuliatan yang diungkapkan mereka.

Semoga harapan mereka masih bisa berarti di suatu saat nanti.

(Visited 33 times, 1 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.