Mencintai Manusia Biasa

Ketika kita mencintai ataupun mengagumi seorang tokoh, hal pertama yang perlu kita siapkan adalah ruang di hati untuk menerima kekurangannya. Bagaimanapun, mencintai seseorang secara berlebihan akan menimbulkan sikap pengultusan yang menyebabkan kita sulit untuk berlapang atas kritik terhadapnya. Bisa kita lihat akhir-akhir ini betapa media sosial dipenuhi dengan perbedaan yang tajam dalam pengultusan beberapa tokoh. Akibatnya, ketika pihak yang berseberangan memberikan kritik ataupun masukan, kita menjadi sulit menerimanya.B ahkan seringkali muncul situasi memanas yang tak kunjung padam. jauh sebelum itu, Rasulullah saw telah memberikan nasehat yang indah pada kita
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’:

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saa karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu” HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh syaikh Al Albani

jauh-jauh hari Rasulullah saw telah mengingatkan kita tentang persoalan cinta ini. Bukankah cinta dan kekaguman kita berlabuh hanya kepada manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan?
tentu berbeda dengan cinta kita kepada Nabi Muhammad saw yang justru diperintahkan agar melebihi kecintaan terhadap diri kita sendiri. Kepada Rasulullah saw, cinta kedua kita dilabuhkan, setelah cinta pertama kita tujukan kepada Allah SWT.
Orang yang beriman akan merasakan manisnya iman apabila hanya Allah dan Rasul-Nya yang paling ia cintai.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” HR. Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43 (67)), at-Tirmidzi (no. 2624), an-Nasa-i (VIII/96) dan Ibnu Majah (no. 4033), dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap kecintaan dan pengagungan kepada manusia hanya dibolehkan dalam rangka mengikuti kecintaan dan pengagungan kepada Allah. Seperti mencintai dan mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ia adalah penyempurna kecintaan dan pengagungan kepada Rabb yang mengutusnya. Ummatnya mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah telah memuliakannya. Maka kecintaan ini adalah karena Allah sebagai konsekuensi dalam mencintai Allah.”

Maka cukup adil bagi kita, bila mencintai seorang tokoh, semata-mata karena kecintaan kita kepada Allah SWT. Dengan catatan, mencintai dengan sewajarnya saja. In syaa Allah dengan demikian, sikap pengultusan akan bisa kita hindari.
Wallahu’alam bi shawab

Referensi : https://almanhaj.or.id/3220-wajibnya-mencintai-dan-mengagungkan-nabi-muhammad-wajibnya-mentaati-dan-meneladani-nabi.html
Sumber gambar : wahdah.or.id

(Visited 5 times, 5 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.