Menanamkan kebiasaan bangun pagi sejak usia dini

Ayam berkokok menandakan waktu fajar sudah tiba, pertanda juga bagi kita sebagai muslim wajib menunaikan sholat subuh. Tapi tidak semua manusia bisa melakukan itu dengan mudah, terutama untuk masalah bangun paginya. Mengapa itu terjadi?
Seorang anak dibangunkan secara paksa oleh ibunya pada waktu subuh, dan dengan bermalas-malasan anaknya bertanya, “Kenapa sih harus bangun pagi-pagi banget? kan masih ngantuk, dingin lagi”.
“Udah jangan banyak tanya, kan kamu hari ini harus sekolah, nanti kamu terlambat sekolah”, kata ibunya.
Pertanyaan-pertanyaan ini pernah dilontarkan anakku, seperti: Mengapa harus bangun dan sholat subuhnya di awal waktu? Apa hubungannya bangun pagi dengan banyak rezeki? Apa hubungannya bangun pagi dengan menjadi pemimpin?
Setelah mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti itu, orang tua menjadi sibuk menjawab pertanyaan dan bingung untuk menanamkan kebiasaan bangun pagi pada anak.
Bangun pagi menurut Islam itu bangun saat fajar menyingsing, atau bertepatan dengan menjelang masuknya waktu sholat subuh. Dalam sejarah Islam, ternyata kebiasaan untuk bangun pagi ini sudah dibuktikan manfaatnya oleh para sahabat, 14 abad yang lalu. Para sahabat dan cendekiawan Islam sudah diakui kehebatannya dalam merumuskan masalah-masalah induk dalam khasanah ilmu pengetahuan. Mereka adalah orang-oarang yang senantiasa bangun, bahkan sebelum waktu shalat shubuh tiba. Ini jadi bukti yang akurat dari perintah Allah SWT yang menyuruh kita untuk bangun di sepertiga malam, kurang-lebih antara jam 2 hingga jam 3 pagi. Di surat Al-Muzammil ayat 5,
Saya ingin berbagi pengalaman yang bisa dilakukan untuk memotivasi kebiasaan bangun pagi pada anak dengan 3 cara ini
1. Tidur tidak terlalu malam
Hal ini sudah sering disampaikan oleh banyak orang. Tetapi bukan itu saja, justru persiapan sebelum tidurnya itu yang penting dilakukan. Pastikan anak sudah selesai mempersiapkan kebutuhannya untuk kegiatan esok hari (dibantu orang tuanya juga boleh), bagaimana pun anak membutuhkan keteladanan dan motivasi langsung dari orang tuanya. Moment menjelang tidur itu menjadi waktu yang tepat untuk memberikan motivasi untuk bangun pagi, sekaligus memberikan keteladanan bahwa orang tuanya pun berjanji akan bangun pagi untuk mengajak sholat subuh berjamaah di masjid.
2. Jadikan waktu subuh itu menjadi momen yang paling menyenangkan dan dinantikan keluarga.
Rasulullah bersabda “berpagi pagi itu barokah”. Sebab waktu itu jiwa, akal dan fisik kita belum letih. masih fresh, jadi sayang jika tidak digunakan sebaik baiknya. sebaik baik waktu bekerja adalah di waktu pagi ini. Rasulullah juga bersabda :

“Tidur selepas subuh itu akan mewarisi kepapaan”. (kepapaan : kemuncak kepada segala macam kesulitan dan kesusahan).
Waktu subuh itu menyediakan energi baru untuk melaksanakan kegiatan sepanjang hari. Banyak cara yang dilakukan agar suasana subuh itu mengasyikan, diantaranya ayahnya selalu menyediakan minuman hangat yang siap dinikmati setelah sholat subuh (jarang jarang ayahnya yang buat). Kalau bangunnya kesiangan, minuman hangat itu tidak bisa dinikmati lagi. Sambil menikmati minuman hangat disertai obrolan santai, anak mengajukan kebutuhannya hari ini dan siap dipenuhi oleh orang tuanya (kalau bisa ditambahkan uang saku)
3. Penghargaan lebih dan fasilitas khusus untuk terbiasa bangun pagi.
Ajak diskusi anak tentang hal apa yang bisa membantu anak untuk bisa bangun dan sholat subuh. Contohnya; anak menginginkan dibelikan jam alarm baru yang dipilih bersama. Ibunya membantu menyiapkan perlengkapan untuk sholat subuh anaknya. Atau banyak hal-hal lain, tapi ada hubungannya dengan kegiatan bangun pagi ya.
Pada dasarnya, menanamkan kebiasaan itu harus sejak dini dan dengan kesabaran. Sekali lagi saya hanya berbagi karena bagaimana pun anak membutuhkan keteladanan dan motivasi dari orang tuanya. Wallahu a’lam.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Leave a Reply