Memilih Untuk Bertanggung Jawab

“Dari 6 nilai ini, mana yang akan kamu pilih, Atho?”
Saya menyodorkan pilihan nilai yang diberikan oleh guru kelasnya :
1. Membiasakan senyum, salam, dan sapa
2. Membiasakan sholat di awal waktu
3. Membiasakan menjaga kebersihan
4. Shalat dengan benar dan tertib
5. Terbiasa mengucapkan kalimat thoyyibah (basmalah, hamdalah, dan istighfar)
6. Terbiasa tertib dan rapi
Awal semester ini di kelas Athoillah sedang ada program ‘The First Six Week’, yaitu pembiasaan melakukan nilai-nilai yang telah ditetapkan selama 6 pekan pertama. Diharapkan nilai-nilai ini tertanam bukan hanya di sekolah, melainkan juga disepakati di rumah.
“Aku pilih yang membiasakan menjaga kebersihan, Umi.”
“Ok, bagus. Berarti selama 6 pekan ini kamu membantu Umi dan Abi menjaga kebersihan di rumah ya, kamu tugasnya membuang sampah dari dalam rumah ke tong sampah di halaman.”
“Siap, Umi.”
Dan kami pun tersenyum bahagia dengan kesepakatan ini.
Hari-hari berikutnya apabila sudah terdengar kode, “Atho, sampahnya sudah penuh nih.”
Maka dengan tergopoh-gopoh Atho akan bergegas mengambil keranjang sampah di dapur dan berjalan menuju ke halaman untuk memindahkan sampahnya. Sudah menjadi rutin kebiasaan tersebut berlangsung selama 6 pekan ini. Sesekali terdengar protes kecil dari bibirnya,
“Kenapa aku lagi yang disuruh buang sampah?”
“Lho, kita kan sudah sepakat kalau kamu yang akan jadi petugas kebersihan di rumah ini.”
Bila sudah demikian, Atho menjadi ringan kembali langkahnya. Tak peduli apakah dia dalam keadaan sedang menonton film kesukaannya atau sedang bermain di gawai milik uminya. Hal yang tampaknya kecil dan sepele bagi orang dewasa, hanya membiasakan memindahkan sampah rumah ke tempat sampah di halaman. Tetapi dari hal yang sederhana inilah, anak-anak akan belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Mengerjakan nilai yang menjadi sebuah pembiasaan untuk dikerjakan setiap harinya, bahkan meski masa program ‘The First Six Week’ sudah berakhir.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply