Membaca Tanda-Tanda

Tidak mudah menangani semua permasalahannya.

Beberapa tahun lalu saya sempat mencermati satu puisi karya Taufiq Ismail, ‘Membaca Tanda-Tanda’ yang sarat makna. Terutama berhubungan dengan lingkungan. Manusia sebagai penentu kebijakan, alam yang dipersembahkan Tuhan untuk dikelola sebaik mungkin. Karena hidup itu panjang dan mewariskan. Ada anak, ada cucu, ada cicit yang akan melanjutkan hidup di bumi dengan menginginkan seluruh kebaikan yang dirasakan bapak, kakek, buyutnya terdahulu.

 Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merasakannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari

Hutan kehilangan ranting

Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Saya meyakini penyebab terjadinya bencana oleh alam dan juga manusia. Bencana karena alam dipengaruhi keadaan bumi itu sendiri. Bisa karena angin, gelombang laut, pergeseran lempeng pembentuk bumi, gunung meletus. Sementara yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berupa banjir karena membuang sampah sembarangan, tanah longsor akibat penebangan hutan secara liar, kebakaran hutan karena membuka lahan baru dengan cara membakar pohon, juga kekeringan akibat pengambilan dan penggunaan air secara berlebihan. Bisa juga baca di http://www.kelaskayu.com/4925-2/

Global warming contohnya. Pemanasan akibat penggunaan energi diluar batas kewajaran. Berlebihan hingga meningkatkan suhu bumi. Efeknya, es di kutub mencair dan menambah volume air. Mengganggu siklus air, meningkatkan uap air yang terkumpul, dan menjatuhkannya kembali ke bumi dalam jumlah yang besar. Asap dari knalpot kendaraan yang tidak lagi ramah terhadap manusia dan alam. Menjadi saksi deretan kerusakan yang akhirnya menimpa umat manusia sendiri.

 

Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata

 Padahal hujan adalah berkah. Tanpa hujan, bumi semakin lapar dan kurus. Panas dan mematikan. Menghanguskan tanaman potensial untuk kehidupan. Tanpa hujan kering kerontang. Bisa juga baca di http://www.kelaskayu.com/curah-hujan-yang-bersahabat/ dan http://www.kelaskayu.com/keberkahan-yang-diwaspadai/

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami

 Mengacu pada klasifikasi bencana alam, setidaknya ada bencana alam geologis yang terjadi pada permukaan bumi. Ada bencana alam klimatologis karena perubahan iklim. Ada juga bencana alam karena wabah penyakit. Ada juga bencana alam ekstra terestrial yang terjadi karena peristiwa di luar angkasa dan mempengaruhi kehidupan di bumi.

 

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukannya

Saya meyakini meresapi puisi ‘Membaca Tanda-Tanda’ karya Taufiq Ismail sejak jauh-jauh hari. Sekarang begitu kompleksnya permasalahan lingkungan yang muncul. Penanganan sampah yang tidak pernah selesai. Pembukaan lahan yang tidak terkendali tanpa memperhatikan keamanan lingkungan. Belum lagi pembakaran hari rumpukan yang mengganggu iklim mikro.

Tidak mudah menangani semua permasalahannya. Namun, jika tidak sekarang, kapan lagi akan diselesaikan? Jika tidak yang dekat dari diri kita, akankah bisa menjangkau yang lebih luas lagi?

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.google.com/search?q=global+warming&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiMkdyQ0cfeAhUKUI8KHesdDTYQ_AUIDigB&biw=979&bih=469#imgrc=pr0mP4ydzbbAqM:

(Visited 10 times, 1 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.