Memandang Langit di Belahan Bumi Allah yang Berbeda

Masih tentang merantau, perjalanan 15 hari di benua Eropa kemarin, membuat kami semakin memahami apa yang perlu dipersiapkan. Seorang perantau perlu membekali dirinya dengan ilmu-ilmu praktis sesuai dengan tuntunan Islam. Jika selama ini ilmu tersebut hanya bersifat teori semata, ketika kita berada di perantauan maka pemahaman teori akan teruji secara aplikatif. Sebut saja ilmu Thaharah (bersuci), Wudhu/tayamum dan Shalat. Kewajiban harian ini akan menuntut aplikasi real dimana ketika kita berada dalam suatu daerah yang tidak menyediakan air untuk bersuci, perjalanan antar kota yang panjang ataupun pemahaman jamak/qashar shalat. Selain itu ilmu Halal Haram. Berapa banyak produk atau makanan yang sama kita akan temukan di Indonesia dengan di luar negeri, namun memiliki status halal haram yang berbeda, contohnya es krim, coklat, permen, bahkan K*C, M*D yang tidak halal membutuhkan ilmu dan kehati-hatian dalam memilih makanan/minuman yang kita konsumsi.

Yang lebih menarik adalah ilmu pergaulan, interaksi dengan lawan jenis. Pada saat konferensi pelajar internasional kemarin di Judenburg, Austria, delegasi Sekolah Alam Indonesia (SAI) berbaur dengan seluruh delegasi dari berbagai negara lain. Tentu saja dengan jilbab yang dikenakan oleh para siswa akhwat SAI sudah sangat menarik perhatian delegasi lainnya yang notabene di negaranya minoritas muslim. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk menunjukkan akhlaq yang terbaik dan memberikan penjelasan kepada delegasi lainnya ketika mereka bertanya, apakah memakai kain penutup kepala itu wajib? Dan kenapa ada yang tidak memakainya meskipun dia muslim? Subhanallah.. Disinilah keyakinan dan ilmu kita tentang jilbab sedang diuji untuk didakwahkan. Selain itu dalam hal bersentuhan dengan non mahram. Salah satu games dalam konferensi adalah cat walk juga perebutan kursi, ketika diminta berpegangan tangan atau bersalaman, spontan para siswa SAI mengatupkan kedua tangannya. Sampai ada delegasi lain yang ikut menjelaskan bahwa ‘oh.. Sorry, she will not hold your hand..’ Alhamdulillah tetap berusaha untuk menjaga diri dari apa-apa yang dilarang di tengah-tengah kebebasan yang ditawarkan itu luar biasa membutuhkan kekuatan untuk bertahan. Lain lagi ceritanya ketika ada kenalan delegasi lain yang mengaku bahwa dirinya Atheis dan meminta murid kita untuk menjelaskan keyakinannya tentang Tuhan. Tentu saja hal-hal yang tak terduga semacam ini perlu kesiapan ilmu sebelum kita merantau.

Maka merantaulah dengan persiapan Adab dan Ilmu karena dunia yang sebenarnya ada di luar sana, dimana banyak sekali orang yang membutuhkan cahaya iman, perlu mengenal Allah, mengenal Islam, dan melihat keindahan akhlaqnya. Sungguh semuanya tidaklah mudah. Namun kita harus ingat bahwa ketika seseorang mendapatkan hidayah melalui lisan kita, hakikatnya bukan kita yang hebat tapi Allah-lah yang memudahkan jalannya untuk kita

Melihat ‘langit’ di belahan bumi Allah yang lainnya sungguh semakin meluapkan rasa syukur bahwa saya adalah seorang muslim dan berharap Allah menjaganya hingga hembusan nafas yang terakhir…

(Visited 53 times, 1 visits today)

Ainun Nurul

Biasa dipanggil Ainun/Fitri. Lahir di tengah keluarga yang hangat di daerah sejuk Sukabumi, Jawa Barat. Menyukai Membaca, menulis, memasak dan travelling. Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia (SAI) sejak 2006. Sangat tertarik dengan pembinaan dan pendidikan anak remaja. Berdiskusi, dengarkan curhat dan jalan bareng para siswa menjadi kegiatan sehari-hari. Saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SL (Sekolah Lanjutan – Level SMP) SAI “We had a plan and Allah has also planned everything for us. If something goes wrong, it went wrong for good reason”

Leave a Reply

Your email address will not be published.