Memaknai Hari Guru

Bagi saya, Hari Guru bukan tentang selebrasi tapi introspeksi.

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengutip puisi pendidikan anak karya Dorothy Law Nolte yang berjudul Children Learn What They Live. Begitu segar kalimat yang dirangkai. Bukan saja indah secara kata-kata karena rimanya, tetapi Dorothy mampu merangkum nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam mendidik anak. Ungkapan yang digunakan dikenal umum, sangat familiar, sederhana, padat, tapi menuntut perhatian dan kerja keras untuk dilaksanakan.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Tepat sekali rasanya saya mengingatkan kembali puisi yang sudah ditulis Dorothy pada tahun 1954. Puisi yang dipublikasikan di koran Torrance Herald di Southern California hingga kini masih terasa kuat pengaruhnya. Terutama pada pendidikan anak usia dini. Sampai tahun 1998, puisi ini telah diterjemahkan dalam 35 bahasa. Wow keren.

Sebagai bagian dari pendidikan, saya memilih untuk introspeksi ke dalam dibanding merayakan Hari Guru yang sedang berlangsung sekarang. 25 November menjadi hari bersejarah buat para guru. Tidak bisa dipungkiri, guru memberi peran yang luar biasa pada pendidikan kognitif, psikomotorik, dan afektif anak.

Mengantarkan anak menemukan dunianya bukan dunia sekarang. Dunianya kelak di masa mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang bertanggung jawab terhadap masyarakatnya, terhadap lingkungannya. Nanti pada saatnya tiba.

Puisi Dorothy Law Nolte sebenarnya telah menampar pendidikan yang salah kaprah diselenggarakan. Saya memahami guru bukan hanya profesi tapi sosok manusia dewasa yang menjembatani langkah-langkah anak sesuai dengan bakat dan minat. Memberi kesempatan indranya tersentuh kecakapan yang diinginkannya. Bukan sekadar berburu nilai yang tertera di dokumen penting, tapi keterampilan yang andalnya mengisi lapangan kerja bahkan membuat lapangan kerjanya sendiri.

Bagi saya, Hari Guru bukan tentang selebrasi tapi introspeksi. Sudah seberapa besar menorehkan keinginan bukan keterpaksaan pada anak? Sudah seberapa dalam menyelami kebutuhan mereka bukan kebutuhan guru atau orang tua? Sudah seberapa jauh memfasilitasi kemampuan belajarnya?

 

Kang Yudha

(Visited 3 times, 3 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.