Melukis Kisah Bersama Si Pemilik Rubber Boots

  • Langit pagi hari ini terlihat mendung. Awan hitam bergerombolan, sepertinya sedang menyiapkan pasukannya untuk bersiap tempur  menyembunyikan birunya langit. Nyanyian gerimis pun mulai mendendangkan bersama sang awan dan angin berdesir menghempas lembut dedaunan agar menari-nari di setiap rantingnya. Tak luput selarik senyuman tulus dari pemilik-pemilik boots satu demi satu turun dari kendaraan yang menghantarnya sampai di ujung gerbang. Siapakah gerangan dia? Hati berdecak bergumam tanpa kata, hanya rasa syukur atas nafas yang Allah berikan, Alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk memandang lukisan-Nya tanpa batas.

Benar juga, air langit berirama dengan mendayu dan lebih bernada, gemericik indah membasah para penghuni bumi. Sepertinya anak-anak sudah tidak tahan terkungkung di dalam saung kelas memandang sang rinai. Beberapa pasang mata melirik ke arah sepatu boots yang berjejer rapi di rak sepatu.

Ah lirikanmu itu loh, Nak, cukup mengisyaratkan keinginanmu untuk berpeluk mesra dengan sang hujan. Oh, siapa gerangan pemilik dua pasang boots yang  berjalan di tepi, bercadar jas hujan itu? Gumamku dalam hati.

“Pak guru, itu di sana ada Nada dan Nadi sedang bermain! Dia kok nggak masuk ke kelas?”

Seorang murid berteriak ketika melihat dua temannya asyik bermain di bawah kucuran dari langit. Senyumku semakin menganga melihat tingkah bocah-bocah di hadapanku ini, tapi biarlah senyum ini tersimpan sementara dalam hati.

Setelah mendapatkan izin dari para pencuri hati, langkahku segera gontai menuju si kembar yang semakin hanyut mengumbar kebahagiaan. Bahkan mereka tak menyadari kedatanganku yang berjarak satu meter dengannya. So…

“Assalamu’alaikum Nada, Nadi…” sengaja akku menyapanya dari balik payung yang mereka pakai dengan volume berbisik.

“Wa…’alaikumussalam, Pak Am…ran..”

“Eh ada, Pak Amran..” si kembar terlihat merona.

Aiih lucu sekali wajah terkejutnya, untuk menjawab salam saja terbata-bata.

“Teman-teman yang hebat, yuk kita masuk ke kelas dulu, kita letakkan tasnya dulu,”

“Oh ya, ya, nanti isi di dalamnya jadi basah ya, Pak?” Celoteh Nada dengan lugu.

“Pak Amran, maafkan Nadi, ya”

“Nada juga minta maaf ya, Pak,”

Oh, masyaa Allah  kata maaf dan pelukannya menghentikan langkah yang baru kuayunkan. Tanpa tegur  yang terucap dariku, mereka menyadarinya akan kesalahan yang dilakukannya. Kami bertiga pun menuju saung kelas.

“Nada….Nadi….” suara anak-anak semakin gemuruh memanggil si kembar.

“Nak, lihatlah teman-temanmu yang menunggu di balik jendela raksasa tanpa tirai saung kelas kita!” ucapku pada si kembar yang berada di sisi kanan kiriku.

“Hehe…teman-teman lucu ya, Pak.” Ucap

“Pak Amran, tahu nggak alasan kami main hujan-hujanan?” Tiba-tiba Nada berkata.

“Karena Nada dan Nadi suka hujan!” aku mencoba menebaknya.

“Aku memang suka hujan, tapi bukan itu alasannya,” jawab si gadis kecil di sisi kananku.

“Terus apa dong yang benar?”

“Jreng-jreeeng…lihat ke kakiku, Pak Amran…!” Nada dan Nadi menunjukkan kakinya yang terbungkus rubber boots miliknya.

“Boots baru dari Nenek, aku suka dengan warna dan gambarnya, aku ingin berlama-lama memakainya, kalau aku masuk ke kelas sepatuku pasti ditaruh di rak.” Si kembar menjelaskan bergantian. Oh ternyata ini alasannya.

“Pak guru, aku juga mau main!”

“Aku juga mau bermain seperti Nada dan Nadi, Pak Amran…”

Ahaa! Sepertinya memang anak-anak tergoda dengan senandung hujan yang terus berirama mengusik hati. Dan saatnya aku melebarkan senyuman bermain bersamanya di tengah keberkahan air langit dan merangkai nada-nada indah dengan percikan boots.

Bagiku, bersamanya berarti belajar terus menerus. Tak peduli kepada siapa dan di mana. Selagi langit setia menjadi payung sejagad dan bumi menjadi pijaknya, disitulah Allah memberi masa agar kita memetik sebuah kisah menjadi pelajaran.

Seperti halnya hari ini. bersama pemilik rubber boots aku bisa merasakan kesegaran si bening air langit yang berirama. Belajar saling menghargai, mencintai, dan menikmati kebersamaan akan lukisan Sang Illahi Rabbi.

(Visited 42 times, 1 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply