Mbah Kung – Mbah Putri

Teringat jelas dalam kenangan masa kecilku dulu. Walau hidup sebagai an only child, tapi tidak selalu berdiam di rumah. Aku seringkali “kabur” entah ke mana saja. Sejak usia empat tahun sudah mahir bersepeda keliling kampung. Menjelajah gang-gang kecil seorang diri. Kadang juga bersama dengan para tetangga mushola. Main di sekolah inpres, adu balap di kuburan cina, mengejar layang-layang, tenggelam di sungai, mencari karet gelang, naik pohon dan mengambil buah mangga, membuat wayang koran, main tembak-tembakan dari biji jali, dan tercebur di got. Semuanya dilalui bersama sepeda kesayangan.

Teringat protes-protesku pada mama. “Kenapa harus mencariku, Ma? Sedang asyik main, kok disuruh pulang.”

“Sudah sore. Mandi. Nanti terlambat ke langgar,” begitu biasanya mama menjawab protesku.

Ah mama tidak tahu keinginanku. Aku masih mengejar imajinasi di pinggir sungai. Menjadi jagoan bersama teman-teman. Menghindari tembakan penjahat. Menyebrangi sungai yang dalamnya setelinga. Setengah tenggelam walau tidak bisa berenang. Seru loh.

Kenapa mama tidak paham juga kalau aku sering keluyuran sore. “Ngebut” mengendarai sepedaku. Menyalip tukang bakso di tikungan. Tercebur di got hitam pekat. Aku sadar kok ketika diangkat pemilik kios di ujung Gang Kecapi. Walau mama tidak mengenaliku saat itu. Namun aku masih kenal semua orang yang menontonku dan membawaku ke sumur belakang. Lalu aku diguyur timbaan air sumur.

“Byur.”

Tidak cukup setimba ember aku diguyur. Dua, tiga kali, baru tampak wajah malangku. Lagi-lagi mama memukul bokongku. Kali ini keras sekali.

Ayahku lebih santai. Dibiarkan aku menghilang setiap sore tanpa dicarinya. Dipikirnya, nanti juga balik sendiri. Mereka sepakat kapan menjadi polisi, kapan menjadi satpam, kapan pula menjadi perawat atau dokter. Berbagi peran di antara mereka.

Pernah suatu hari aku dan teman-teman kampung mengambil buah mangga tetangga. Aku pula yang menjadi “lakon” pemetik tunggal. Satu-satu buah merah menjadi pilihan. Letaknya agak di ujung dahan.

“Prak.”

Aku jatuh pada pijakan terakhir. Rupanya menginjak dahan lapuk. Beruntung jatuhku tidak langsung ke dasar. Satu dua dahan menopangku sebelum terjun bebas di tanah. Ah sakit rasanya. Lebih sakit saat ketahuan pemiliknya.

“Hey, ngapain Kalian!” sambil acung-acungkannya golok panjang.

Tak ayal lagi, teman-temanku lari tunggang-langgang menyelamatkan diri masing-masing. Sementara aku dijewernya sambil membawa ke rumahku.

Mama tergopoh-gopoh meminta maaf atas keberanian konyolku. Sementara ayahku siap menggantikan buah mangga yang hilang.

Kini baru kusadari betapa khawatirnya mama saat aku kecil dulu. Terutama ketika anak-anakku terlambat pulang. Tidak memberi kabar hingga larut malam. Gawainya tidak bisa dihubungi. SMS tidak dibalas. Demikian juga WA dan Line-nya.

Sungguh kehidupanku kini menyadarkan kenakalanku dulu. Kini, mereka sudah berganti nama. Panggilanku dan anak-anak padanya Mbah Kung dan Mbah Putri.  Kupastikan cintanya tetap terawat sepanjang masa.

 

Kang Yudha

 

Sumber foto: https://www.google.com/search?biw=1366&bih=654&tbm=isch&sa=1&ei=HBSbW7XNOsvxvAT4gZbQBQ&q=genggaman+tangan+&oq=genggaman+tangan

(Visited 12 times, 2 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply