Lukisan Tanpa Kanvas

Angin berhembus menyapu dedaunan berbentuk sejajar yang tumbuh di setiap batang pohon kelapa.  Burung camar bernyanyi indah seirama dengan debur ombak yang  menari di atas perahu-perahu nelayan. Nyanyian  senja pun membujuk malam meretas sunyi di kanvas rindu. Rindu pada seseorang yang mencintainya tanpa syarat. Senandung ayat Allah terucap tiada henti dari lisan seorang pria berambut ikal legam dan memanjang sebahu yang tergerai tersapu lembut oleh hembusan angin. Ia begitu menikmati keindahan alam itu. Untaian kata demi kata benar-benar tersusun indah menjadi sebuah lafadz yang terlukis dalam hati.

Sejak usianya dua tahun ia sudah menjadi anak piatu. Dan ketika ia berusia dua puluh tahun Abah tercintanya wafat. Debur ombak telah menghantam perahu yang ditumpanginya. Resmilah ia menjadi yatim piatu. Saat itu ia sangat membencinya. Benci dengan ombak yang menghantam dan membuat dirinya hidup sebatang kara.

Gumpalan awan hitam yang berbaris di cakrawala sepertinya siap menumpahkan air ke penjuru bumi. Mendung dan gelap. Segelap hatinya yang sedang kalut. Sudah seminggu kepergian abahnya. Mengurung diri dalam kamar, terkadang suaranya tercekik. Apakah hidup ini adil? Orang-orang yang singgah menghampirinya tak ada yang berhasil membawanya keluar dari kemelutnya. Tidaklah mudah menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Dan siang itu sang pemuda memutuskan pergi membawa luka yang menganga di hatinya.

“Ray, kamu mau kemana?” Tiba-tiba seorang kerabatnya menghampiri ketika melihat pemuda itu pergi menggendong tas ransel di pundaknya.

“Entahlah, Paman…”

Pemuda itu terus berjalan tanpa memalingkan tubuhnya. Ia terus melangkah tanpa mempedulikan dirinya lelah, lapar, ataupun haus. Melangkah tanpa arah, hingga sampai di sebuah kota bagian timur Jawa.

Hujan malam ini semakin deras mengguyur kota Surabaya. Mungkin bagi sebagian besar penduduk ini hujan di malam hari membuat mereka merasa nyaman di dalam rumah dan tidur lebih nyenyak. Berbeda dengan pemuda ini, ia tak peduli jika angin, hujan, dan terik matahari menerpa tubuhnya.

Pada suatu malam Rayhan ditemukan terkapar di masjid Al Barkah oleh seorang jama’ah masjid yang baru menyelesaikan tilawahnya dan hendak pulang. Orang tersebut dibantu jama’ah lainnya membawanya ke Puskesmas setempat.

“Bagaimana kondisi pemuda itu, dok?” Tanya seorang Bapak yang menggunakan sorban di pundaknya.

“Sepertinya pemuda tersebut sudah berhari-hari tidak makan dan minum, kita tunggu setengah jam ke depan, Pak,” jelas dokter yang bertugas di Puskesmas tersebut. Benar adanya setengah jam kemudian Rayhan sadarkan diri. Atas bimbingan Pak Ibrahim, Rayhan bersedia tinggal bersamanya.

Membutuhkan waktu panjang untuk menyembuhkan luka yang telah menggores hatinya. Bagi Rayhan, Pak Ibrahim dan keluarga adalah malaikat penyelamat yang diutus Allah menggantikan Abah dan Ambu yang kini berada di surga.

Pak Ibrahim memiliki dua putri. Putri sulungnya bernama Maryam, ia berusia tujuh belas tahun dan mondok di Tebu Ireng, Jombang. Sedangkan Aisyah, putri bungsunya kini duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Merekalah keluarga baru Rayhan.

Waktu terus berputar. Berjuang dan bangkit dari keterpurukkan adalah nasihat yang selalu terucap dari bibir orang tua angkatnya. Terima kasih Allah, Engkau kirimkan mereka padaku. Entah sudah berapa banyak waktu yang tersia-sia, takkan kubiarkan sedetikpun itu terulang.

Perjuangan yang di ridhoi Allah tidak akan sia-sia. Rayhan kini tumbuh menjadi pemuda dewasa yang matang.  Ia kini menjadi pengacara muda sholih di Ibukota Indonesia, Jakarta.  Sedangkan Maryam, sepulang dari pesantren ia kembali ke rumah dan mengajar di sebuah sekolah di desanya. Mereka hampir tak pernah berjumpa.

Hari ini gerimis membasuh kota Jakarta. Kebaikan air hujan menghantarnya memasuki lorong kereta Argo Bromo yang akan membawanya ke stasiun Pasar Turi, Surabaya. Alhamdulillah, itu dia nomornya,21. Ya Allah, semoga Engkau meridhoi keputusanku ini, aamiin.

Kedatangan Rayhan ke Desa Tambaksari membuat keluarga Pak Ibrahim bahagia dan terkejut. Terlebih malam itu Rayhan menyampaikan isi hatinya, yaitu meminang Maryam menjadi istrinya.  Pak Ibrahim mengusap bulir bening yang tak tertampung lagi. Bukan bening kesedihan, tapi haru dan bahagia. Pak Ibrahim sangat tahu kalau Maryam pun telah menaruh hati padanya.

Qadarullah, sebulan setelah pinangan itu, Rayhan dan Maryam mengikrarkan janji suci di masjid Al Barkah. Masjid yang mempertemukannya dengan keluarga barunya. InsyaAllah keberkahan Allah menyertai.

Tujuh belas tahun menghapus luka yang bersemayam dalam dirnya. Hari ini, tepat tujuh belas tahun  sang nelayan berada di sisi Allah. Sang pemuda datang bersama istri tercintanya untuk kali pertama menginjakkan kaki di kampung halaman, desa terpencil di Barat Jawa. Tentu saja ia tak berjuang sendiri dalam menghapus luka itu. Usaha dan doa bersama orang-orang yang mencintainya selalu dilangitkan kepada-Nya.

“De’ terima kasih atas semua ini, sulit dipercaya aku mampu menginjakkan kaki di sini lagi,” sang empunya tulang rusuk menghampiri seorang wanita yang duduk di atas batuan karang.

“Bukan, bukan karena aku, ini semua berkat perjuanganmu untuk mengikhlaskan suratan taqdir-Nya, Kak Ray,” jawab sang istri dengan lembut penuh kasih.

“De’, senja telah berganti dengan gemintang, yuk kita tunaikan shalat maghrib dulu.”

Malam ini sajadah terbentang di atas butiran putih. Deru ombak pun semakin bersahutan  berjama’ah tunaikan shalat maghrib. Ah! Akhirnya malam ini ia mampu menjadi imam diiringi desah angin yang senantiasa berdzikir menyapu gelombang. Kebencian itu kini telah sirna oleh masa yang senantiasa dialiri doa.

Malam ini juga bersama gemintang yang bertaburan di langit cakrawala, aku melukis tentang kehidupannya, tapi bukan melukis di atas kanvas ataupun dengan tinta warna-warni.  Namun aku melukis dengan tinta cinta agar tetap terpatri menjadi guru kehidupan. Bahwa hidup itu harus berjuang. Bercumbu mesra dengan Allah untuk menggapai keridhoan adalah hal mutlak agar kasih sayang Allah selalu mengalir memeluk kehidupan kita.

 

(Visited 16 times, 16 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply