Kudoakan Namamu Ada di Setiap Lapis Langit

Desir angin malam ini begitu lembut terasa menyapa pori-poriku.

Entahlah, mengapa ia menyapaku hanya dengan senyum simpulnya.

Kemanakah gerangan bintang gemintang yang selalu berkelip indah itu?

Mungkinkah dia bersembunyi di balik awan?

Ya, sepertinya bintangku tak ingin menampakkan dirinya.

Oh…itu dia! Dia ada di sana!

Bintangku ada di balik awan.

Subhanallah……

Cahayanya tetap terpancar terang meski dia tersembunyi.

Hadirnya selalu menghias indah di langit malam.

Itulah kamu anak-anakku…

Kau ibarat bintang itu dan selalu terpatri dalam hati.

Kau selalu  memancarkan cahaya itu.

Cahaya yang keluar dari sinaran hati yang suci.

Hanya orang-orang tertentu yang mampu merasakan cahayamu.

Cahaya yang tak nampak jika dilihat dengan sekasad mata.

Cahaya yang tak dapat dirasa jika dengan sekilas sapa.

 

Anak-anakku…

Janganlah bersedih jika namamu tak kunjung dipanggil.

Janganlah bermuram durja jika senyummu tak dihirau.

Dan janganlah berurai air mata jika sosokmu tak dikenal.

Percayalah…setiap lapis langit namamu kian terpatri.

 

Anak-anakku…

Ingatlah kisah seorang pemuda bermata biru dari Yaman.

Seorang pemuda pengembala kambing yang hanya mempunyai dua helai pakaian lusuh.

Pemuda itu miskin benar adanya.

Namun hatinya dipenuhi jutaan kebaikan dan syafa’at.

Ia tak pernah lalai berpuasa di siang hari dan bermunajat di malam hari.

 

Tahukah engkau siapa dia, anakku?

Dia adalah Uwais Al Qarni.

Seluruh penjuru bumi memang tak mengenalnya.

Namun…

Ketaatannya pada Sang Illahi.

Kerinduan yang selalu membuancah pada Sang Rasul.

Dan cinta baktinya pada Sang Ibu.

Menghantarkannya menjadi manusia yang terkenal di langit.

Dia adalah Manusia Penghuni Langit.

Maa Syaa Allah…

 

Anak-anakku…

Tetaplah tersenyum…

Bersinarlah terus dengan ketulusan yang kau miliki…

Seperti bintang yang bersembunyi di balik awan.

Cahayanya tetap terlihat menyinari seluruh jagad.

 

Semoga puisi ini mampu mengingatkan kita (terutama diri saya) agar dapat mencintai dan mengasihinya, serta menyebut kebaikannya tanpa melihat siapa orang tersebut. 

 

(Visited 206 times, 3 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply