Komposter

Pekan lalu saya janjian bertemu dengan salah satu orang tua penggerak organik. Pembicaraan tentang seputar organik dan pemanfaatannya. Sungguh saya kagum kepadanya karena sampai saat ini konsisten menjadi duta organik. Mengabarkan pentingnya mengonsumsi panganan organik – makanan sehat. Ternyata bukan saja sebatas informasi, tetapi juga sebagai pelaku usaha organik.

Keren bukan? Kota seluas Depok punya orang seperti Pak Puji yang melakukan kegiatan terpuji dan harus diapresiasi.

Saya merasa kecolongan, jika mengingat halaman depan rumah tidak bisa ditanami apalagi ala organiknya Pak Puji. Lah, semuanya sudah diplester. Tidak ada tanah terbuka sebagai sumber resapan. Satu-satunya yang saya pertahankan adalah lahan kecil di antara selokan dan badan jalan persis di depan rumah. Ada sekitar tiga meter persegi berbentuk memanjang. Ya, sepanjang selokan kecil yang dipotong jalan masuk ke halaman rumah.

Kembali kepada pembicaraan saya dengan Pak Puji mengenai ember komposter. Apa itu? Kalau mencari informasi dengan cara googling arti komposter adalah alat yang digunakan untuk membantu kerja bakteri pengurai (decomposer) aneka material organik berupa sampah dan limbah menjadi bentuk baru, yakni material kompos dengan sifat-sifat seperti tanah. Bakteri pengurai sendiri adalah organisme yang memakan organisme mati dan produk-produk limbah dari organisme lain. Harapannya, pengurai dapat membantu siklus nutrisi kembali ke ekosistem.

Saya mendengar selain aktif pada kegiatan organik, Pak Puji juga menyediakan sarana dan prasarana untuk menjadi manusia organik sejati. Senangkan? Orang-orang kota yang sibuknya melebihi 24 jam sehari pasti tidak punya waktu untuk berkecimpung di dalamnya. Pak Puji, memudahkan orang sok sibuk seperti saya bisa juga bergelut di kegiatan cinta lingkungan ini. Paling tidak bisa berkotor-kotor tangan mengiris kecil-kecil sisa racikan sayuran yang tidak terpakai. Mungkin karena terlalu tua atau keras. Maka tangan ini dengan dibantu gunting atau pisau mencacahnya hingga berukuran mini. Kemudian sisa makanan tersebut dimasukkan ke dalam ember komposter yang sudah disiapkan Pak Puji. Mudah bukan?

Saya ceritakan proses kerjanya saja ya.

Pengolahan sampah basah dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan pupuk cair. Pupuk cair memiliki berbagai manfaat. Selain untuk pupuk, pupuk cair juga bisa menjadi aktivator untuk pembuatan kompos. Sebenarnya saya gemas dengan sampah basah ini. Ujung-ujungnya bau dan ketika dibuang ke tempat sampah tidak diambil pemulung. Ya, iyalah. Siapa yang mau? Kotor dan tidak bernilai.

Sebenarnya sudah sejak lama masyarakat mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompas. Khususnya masyarakat pedesaan atau yang memiliki lahan kosong cukup luas. Mereka biasanya membuat lubang sebagai tempat penampungan sampah basah. Jika lubang telah penuh, maka bagian atas lubang ditimbun dengan tanah. Kemudian membuat lubang lainnya di tempat yang berbeda. Ya, begitulah masyarakat secara tradisional mengolah sampah basahnya. Sampah yang ditimbun dalam tanah secara alami akan terurai sehingga menjadi pupuk yang pasti akan menambah kesuburan tanah. Nah dari bekas-bekas lubang sampah tadi kemudian ditanam berbagai macam tanaman atau diambil medianya sebagai pupuk.

Ember komposter memiliki instalasi untuk sirkulasi udara di dalamnya sehingga dapat membantu proses pengomposan aerob dan mempercepat proses penguraian sampah. Selain itu juga mampu menjaga kelembapan dan suhu sehingga bakteri dan jasad renik dapat bekerja mengurai bahan organik secara optimal. Ember komposter terbagi atas dua bagian. Bagian atas sebagai tempat material padat, sementara bagian bawahnya sebagai tempat pupuk cair terkumpul.

Pembuatan komposnya menurut https://isroi.com/2015/10/24/komposter-sederhana-untuk-sampah-organik-rumah-tangga/ adalah sebagai berikut,

1. Sampah organik yang biasa dikenal sebagai sampah basah dikumpulkan.

2. Setiap hari masukkan sampah basah ke dalam ember komposter. Tekan-tekan menggunakan tongkat/kayu agar memadat.

3. Jika tumpukan sampahnya sudah setinggi 5-10 cm, bisa taburkan cairan bakteri pengurai secukupnya.

4. Langkah-langkah di atas diulangi hingga ember komposter penuh.

5. Kompos tidak perlu dibolak-balik, cukup dibiarkan saja.

6. Sampah organik akan menjadi kompos dalam waktu kurang lebih 3-6 minggu, tergantung jenis sampah, ukuran, dan kondisi proses pengomposannya.

7. Bagian bawah akan lebih cepat menjadi kompos, sedangkan bagian atas akan terlambat matang.

8. Kompos yang sudah matang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam.

9. Air yang tertampung di bagian bawah digunakan sebagai pupuk organik cair.

Mudah bukan. Terima kasih Pak Puji. Mari kita berorganik dengan gembira. Siapa takut.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=KgqBkooI8jA

(Visited 33 times, 2 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.