Kompetisi UOB Tingkat Asia Tenggara

Mari kita sadari untuk membuat kita semua semakin cerdas, semakin kritis sehingga isu yang melibatkan masyarakat banyak bisa diantisipasi lebih dini. Tidak muncul dalam kompetisi dengan mengekspos berita pertengkaran antar etnik atau isu sara lagi.

 

Membaca berita tentang Kompetisi United Overseas Bank (UOB) Southeast Asian Painting of the Year 2018 yang dimenangkan Suvi Wahyudianto terasa kurang greget. Karyanya melawan rival terkuat dari beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Karya yang diilhami dari peristiwa ketegangan antar etnis yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, pada tahun 2001 lalu. Menceritakan sentimen primordial dan pentingnya berempati.

Berita sentimen budaya memang akan menjadi sorotan publik. Apalagi jika melihat Indonesia sebagai negara majemuk, dengan beragam etnis, beragam budaya, dan beragam agama. Potensi besar terjadi benturan sering tidak terelakkan. Kembali kepada pemahaman pendidikan rakyat Indonesia selama ini.

Sangat memprihatinkan, sebenarnya. Data UNICEF tahun 2016, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir sekolah dasar (42,1 persen) maupun tidak memiliki ijazah (30,7 persen). Meski demikian, rencana untuk menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata cukup besar, yakni 93,9 persen. Hanya 6,1 persen yang menyatakan tidak memiliki rencana untuk itu. https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170417145047-445-208082/tingginya-angka-putus-sekolah-di-indonesia/

Jika membaca data-data yang dipaparkan student.cnnindonesia.com di atas, bangsa ini butuh waktu yang panjang untuk menjadi besar. Besar yang dimaksud tidak terpicu dengan isu sara dan etnis. Ada peningkatan kecerdasan logika yang berefek pada berbagai peningkatan bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Tidak bisa dipungkiri berhulu pada pendidikan membuat bangsa ini mampu bersaing di tingkat bilateral, maupun internasional dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Saya belum melihat adanya perkembangan signifikan untuk menjaga nilai yang terjadi di Indonesia. Masih saja ada penghalang dari segelintir oknum yang menginginkan keuntungan pribadi, keuntungan sesaat. Tidak membangun bangsa, menikmati kebodohan berujung pada kekuasaan dan kekayaan.

Saya cemas dengan budaya bertutur tentang nilai-nilai positif yang sudah banyak ditinggalkan orang tua-orang tua dan guru.  Sehingga pendidikan hanya bersifat transaksional bukan pendalaman filosofi yang lebih tinggi sebagai bahan diskusi membangun peradaban.

Mari kita sadari untuk membuat kita semua semakin cerdas, semakin kritis sehingga isu yang melibatkan masyarakat banyak bisa diantisipasi lebih dini. Tidak muncul dalam kompetisi dengan mengekspos berita pertengkaran antar etnik atau isu sara lagi.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: http://jabar.tribunnews.com/2018/07/03/uob-painting-of-the-year-2018-kompetisi-seni-dan-identitas-seniman-sebagai-kreator-seni-tertarik

(Visited 5 times, 5 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply