Ketupat Lebaran Mbah Wangi

Lukisan langit siang ini terlihat sendu. Cahayanya bersembunyi di balik segerombolan awan. Ah, sepertinya langit akan menyalakan shower raksasanya. Sepertinya hawa dingin  mulai menyerang wanita sepuh yang berada di sebuah saung sudut jalan Kemuning Semarang itu. Kain tebal terlihat membungkus tubuhnya yang berbaring di atas ranjang kayu. Sebelas tahun lalu suami tercintanya pergi dan takkan pernah bisa kembali lagi. Sejak saat itulah Mbah Wangi, orang memanggilnya, berjuang hidup sendiri.

Meski usianya telah renta, ia tak pernah menengadahkan tangannya atau meminta belas kasih orang lain, namun sebaliknya, si Mbah aku memanggilnya, setiap hari berusaha mengais rezeki dengan berdagang keliling menjual sapu lidi yang dibuat oleh tangan tuanya.

Setiap kaki ini melangkah menuju kampus, mataku tak pernah absen untuk melihat keadannya meski hanya dari balik jendela saung yang terbuka lebar untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.

Sebulan yang lalu aku pernah kehilangan jejaknya. Tetangga sekitarpun tidak tahu rimbanya. Akhirnya bersama tiga sahabat aku mencari ke beberapa tempat yang pernah si Mbah singgahi. Alhamdulillah perjuangan tidak sia-sia, di hari ke lima ada titik terang tentangnya. Mbah Wangi ternyata masuk rumah sakit. Beliau ditemukan tergeletak di sebuah taman ketika sedang berdagang. Sejak saat itulah rasa takut selalu menyerang jika sosoknya tidak tertangkap oleh retinaku.

Hari ini adalah hari ke dua puluh tujuh dalam bulan Ramadhan. Tiket menuju Ibu kota pun sudah dalam genggaman. Wajah-wajah yang membuat rindu melangit semakin nyata, namun keraguan itu selalu datang ketika wajah renta Mbah Wangi menyelinap dalam benak. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kerinduanku semakin membuncah. Bahkan semilir angin kerap membawa wangi tubuh Ayah, Ibu, dan si bungsu dalam indraku. Esok hari jam dua siang kereta Argo Muria telah menanti di stasiun Tawang.

Sepulang dari kampus, bersama semburat kekuningan yang terlihat indah di angkasa langkah mulai kuayunkan menuju kediaman Mbah Wangi. Tetiba bening hangat menetes dari kelopak mata ketika melihat tubuh bungkuknya menyapu serambi rumah. Rumahnya memang tidak mewah, tetapi tertata rapi dan terjaga kebersihannya.

“Assalamu’alaikum, Mbah…”

“Wa’alaikumussalam…” Mbah Wangi menyambutku seperti biasa kalau aku datang.

“Rene, lungguh cah ayu,” aku mengikuti si Mbah duduk di atas dipan.

“Hari ini si Mbah masih puasa?”

“Alhamdulillah, walaupun  si Mbah wis tuo tapi isih kuat poso, Nak.”

MasyaAllah ingin sekali kuraih tubuh tuanya dalam peluk. Haru dan bangga, serta syukur atas kesempatan mengenalnya, mencintainya.

“Mbah, insyaAllah besok Ayu pulang ke Jakarta, Mbah Ikut nggih?

Sesuk?” Tanya si Mbah kaget.

Nggih, Mbah,”

Walaah piye iki, si Mbah belum nyiapin oleh-oleh buat keluargamu, Yu.”

“Tidak usah repot, Mbah. Mbah ikut Ayu ke Jakarta nggih?”

Aku masih berusaha mengajaknya. Ya, meski aku tahu jawabannya itu seperti apa. Dan tepat sekali si Mbah tidak mau ikut, bahkan kalimatnya membuat bulir-bulir dari retinaku mengalir tanpa henti.

“Mbah iki  wis tuo, tinggal nunggu Malaikat Izroil njemput. Si Mbah pingin nek ninggal dimakam ning sebelah Mbah Kakung, dadi si Mbah kudu ning kene wae.” Ucap perempuan yang sudah kuanggap Nenek.

Mbah Wangi memiliki cara hidup sendiri dan yang terpenting hidupnya tidak mau merepotkan orang lain. Percakapan singkat di kala senja itu dilanjutkan berbuka puasa dan shalat Maghrib berjama’ah seolah mengisyaratkan hari terakhirku dengannya. Sungguh berat langkah ini meninggalkannya.

Dari balik jendela Argo Muria kulihat lukisan alam yang mempesona. Sungguh nikmat mana lagi yang kita dustakan? Allah begitu pemurah kepada setiap hamba, tampa pilih kasih.

Rasa bahagia merasuk dalam hati akan terbalasnya kerinduan ini, namun sekelebat bayang Mbah wangi membuat rasa kecut datang. “Ya Allah, jaga beliau.”

Tepat pukul tujuh malam aku sampai di stasiun Gambir. Kendaraan on line yang kupesan sudah menanti. Aku sengaja tidak mengabari keluarga kalau malam ini pulang. Hening. Jalanan terlihat lengang tidak seperti hari-hari biasanya. Tanpa lalu lalang kendaraan roda empat ataupun roda dua yang selalu menghias kemacetan Ibu kota Indonesia ini. Tiga puluh lima menit perjalanan  menuju rumah. Seperti yang kusangka, ketika mobil terparkir di depan garasi sebuah teriakan terdengar.

“Kakak…” seorang gadis remaja yang selalu energik itu menghampiriku.

“Kakak, kenapa nggak ngasih tahu kalau mau pulang?”

“Hehehe…kejutan doooong,” pelukan kangen tak terhindar lagi.

“Kak, Kakak sembunyi dulu di sini ya!” Hemm, si gadis remaja menyuruhku bersembunyi di balik daun pintu, yo wislah manut wae.

“Ibuuu, kita kedatangan tamu istimewa malam ini.”

“Ah bisa saja kamu ngerjain Ibu, Ndah,”

“Ibu lihat saja, itu di depan ada tamu yang menunggu.” Langkah kaki Ibu semakin mendekati pintu, dan…

“Assalamu’alaikum, Ibu…”

“Wa’alaikumussalam, Ayu…”

Sesaat lamanya kami berpelukan. Tetes air mata haru menjadi saksi kerinduan kami yang setahun ini terpendam. Pertanyaan dan jawaban yang sama mengenai kepulanganku yang mengejutkannya. Ayah, di mana lelaki hebat itu? Bisikku dalam hati.

“Ibu tahu, pasti kamu nyari Ayah?” belum sempat pertanyaan yang menyelinap itu kuungkapkan tetiba Ibu dapat membacanya. Ah Ibu memang seperti itu, dia selalu tahu apa yang dipikirkan anak-anaknya. Ayah sedang menghadiri undangan ifthor jama’i.

Tak terasa malam semakin larut, tubuhku menuntut haknya untuk diistirahatkan. Oh rindunya aku tidur di kamar ini.

Tiga hari sudah aku meninggalkan Mbah Wangi, kabar terakhir beliau seperti kurang sehat. Gelisah, pasti! Hanya doa yang mampu kupanjatkan untuknya. Dan hari ini adalah hari terakhir Ramadhan, semoga si Mbah semakin sehat, aamiin.

“Kriiiiing…kriiiiing…”

Oh ternyata Sasa telepon dari tadi. Sasa pun mengirimkan pesan panjang untukku.

“Innalillahi wa inna illaihi raaji’un, Mbah Wangi…” tubuhku terkulai lemas dan hanya air mata yang terus mengalir.

Mbah Wangi sungguh beruntung, ia dimampukan menjalankan puasa selama sebulan. Bersama alunan takbir yang terus berkumandang malaikat Izrail datang mencabut nyawanya.

Seperti namanya, Wangi, yang berarti harum. Semoga Allah tempatkan ia di sisi-Nya. Dan wangi kasturi menyertai dalam kuburnya. Mbah Wangi sedo setelah selesai menjalankan puasa selama sebulan. Sore itu ia ke rumah Sasa membawa ketupat yang dibuatnya.

“Sasa, si Mbah tadi buat ketupat, ini untuk kamu dan ini untuk Ayu,” dengan langkahnya yang tak bisa cepat lagi si Mbah menyempatkan dirinya menghantar ke rumah Sasa.

Sasa sudah menjelaskan kalau aku masih di Jakarta, tapi si Mbah berkeras memberikan ketupat itu dengan wajah tersenyum.

Sebuah isyarat terakhir dari Mbah Wangi sebelum ia wafat melalui ketupat yang dibuatnya, InsyaAllah husnul khatimah.

Allahummagh firlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu anhaa waj’alil jannata matswaahaa, aamiin.

(Visited 21 times, 21 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply