Ketika Binar Cinta Terpancar dari Bola Matanya.

Di bawah langit bagian Barat Jawa para pemuda-pemudi SL 9 Sekolah Alam Indonesia melangkahkan kaki, berjibaku selama 9 hari. Merasakan embun kehidupan yang berbeda. Tak terbayangkan dan tak pernah dilakukannya.Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyatukan hati dan satu atap dengan keluarga yang sebelumnya tak dikenalnya, namun jika Sang Kuasa telah berkehendak maka Kun fayakun. Manusia hanya berikhtiar dan berdoa, selebihnya Allah lah Maha Berkehendak.

“Bu guru, di sini aku merasa paling menderita, saat ini,” Seorang pemuda melontarkan sebuah kalimat dengan menundukkan kepalanya.

Sebuah kalimat yang mengiris hati dan menyimpan berjuta tanya bagi orang yang mendengarnya. Ada apa? Mengapa? Dua kata tanya itu bergelantungan di kepala orang yang ada di sekelilingnya. Kalimat tersebut terlontar di hari yang ke empat.

Empat hari singgah di rumah sederhana beratapkan jerami yang berlubang, bilik bambu yang sudah rapuh mengelilingi sebagai dinding, dan tidur beralaskan kasur yang telah lapuk. Bahkan jika air langit mengguyur bumi, seisi rumahpun mendapatkan semburannya. Menjelajah perbukitan untuk mencari kayu bakar, mengarit rerumputan di tengah teriknya mentari, dan manca di tengah ladang dengan kucuran keringat. Ya, 380 derajat kehidupan yang dijalaninya berbalik, namun dengan berputarnya jarum jam cahaya cinta itu mulai tumbuh. Hari ke empat berlalu menuju hari ke lima, enam, tujuh, delapan, sampai di penghujung hari. Derita yang dirasa sebelumnya berbuah manis, bahkan cahaya cintanya terlihat dari pelupuknya yang kini berbinar. Air mata bersaksi akan kesedihan di hari itu. Tak banyak kata yang keluar, hanya pelukkan cinta dengan deraian yang mengalir. Maa Syaa Allah…

Kekuatan refleksi sangatlah berperan dalam setiap kegiatan. Menghadirkan Allah di setiap nafas, meraih keridhoan-Nya dalam setiap langkah, dan mendatangkan wajah ayah bundanya ketika menatap raut bapak ibu asuhnya agar para pemuda-pemudi SL 9 ini tumbuh menjadi seseorang berkarakter kuat, tangguh, dan penuh kasih.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah pernah berkata, “Cinta adalah santapan hati, gizi, dan kegemaran jiwa. Cinta ibarat kehidupan. Orang yang tidak memilikinya tak ubahnya jasad tak bernyawa. Cinta adalah pelita. Siapa yang tak menjaganya, dia ibarat tengah berada di lautan yang gelap gulita.”

Live In bertajuk KADEUDEUH di desa Cirangkong selama 9 hari ini menstimulus sebuah rasa Sympathy & empathy kepada orang lain. Sympathy & Empathy adalah dua hal yang mudah terucap, namun butuh ketulusan hati yang keluar dari lubuk terdalam pada setiap individu, tak memandang orang dewasa ataupun anak-anak. Semoga detik dari waktu yang Allah berikan akan mendatangkan kebermanfaatan untuk orang lain dengan memantapkan hati dan membiasakan diri dalam menebar kebaikan.

 خَيْرُ النَّاس أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

(Visited 42 times, 8 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply