Kenapa Marah?

Ketika sekali waktu saya bersama dengan murid-murid di Kelompok Bermain (KB) berjalan-jalan berkeliling sekolah, seorang guru menghampiri dan mencubit pipi salah satu murid saya karena gemas. Ekspresi yang seketika terlihat di wajah sang murid adalah marah. Murid itu lantas merapat ke guru kelasnya dan memberi isyarat bisakah kita segera kembali ke kelas sekarang? Sayangnya ekspresi tersebut sepertinya tidak terlihat oleh guru yang mencubit pipi murid itu, dia masih saja menggoda murid itu.

Kenapa murid itu marah ketika pipinya dicubit karena gemas? Jawabannya sederhana, karena dia merasa terganggu ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Marah adalah insting dasar makhluk hidup ketika mendapati ada hal yang tidak beres dengan lingkungan yang membuatnya merasa terganggu, tidak senang ataupun benci. Ekspresi marah yang paling mudah terlihat adalah dari raut wajah orang yang merasakan amarah itu. Biasanya suara dengan intonasi yang tinggi juga diasosiasikan seseorang dalam keadaan marah.

Paul Ekman berkata “Sebaiknya kita tidak meniadakan marah, karena marah memberitahukan kita ada hal yang tidak beres di sekitar kita.” Marah adalah reaksi, bukan aksi. Ini menjelaskan bahwa marah dipicu oleh hal di luar kendali kita. Marah adalah salah satu mekanisme yang kita gunakan untuk melindungi diri sendiri dari merasa terluka, sedih ataupun takut. Perilaku marah-marah membuat kita merasa punya kuasa atas situasi yang sedang terjadi. Merasa dominan.
Karena marah adalah reaksi melindungi diri sendiri, perilaku yang muncul dapat berupa menghadapi (fight) atau menghindarinya (flight). Peran ini dilakukan oleh bagian otak yang mengendalikan emosi bukan otak untuk berpikir. Sering kali hal yang dikatakan seseorang ketika marah akan disesalinya ketika selesai. Ini karena ketika kita berada pada kondisi harus bertahan, maka apapun akan dilakukan untuk mempertahankan diri dari kondisi yang tidak menyenangkan itu. Termasuk dengan menyerang baik fisik ataupun verbal. Makanya menghadapi marah dengan marah bukanlah hal yang bijak.

Jadi boleh marah? Iya, jelas boleh. Karena marah adalah salah satu sinyal yang dikirimkan oleh diri kita untuk melakukan pertahanan. Ketika murid saya tidak bisa menghadapi situasi cubitan lebih lama, dia memilih untuk menghindar dengan mengajak gurunya untuk kembali ke kelas.
Kenapa kita sering tidak boleh marah? Karena orang yang tidak siap atau tidak suka dengan bagaimana orang lain mengekspresikan marahnya. Jadi bukan boleh marah atau tidak tetapi bagaimana kita meekspresikan marah itu yang biasanya orang tidak siap. Marah-marah, membentak, meninggikan intonasi suara adalah ekspresi marah yang tidak disukai oleh orang yang berhadapan dengan kita.
Nah bagaimana dengan orang yang bawaannya marah-marah melulu? Bentak-bentak orang melulu? Mungkin pola itu yang dari kecil dia gunakan untuk mempertahankan diri dalam kondisi marah sehingga setiap ada hal yang memicu amarah dia akan bereaksi yang sama. Dengan kata lain kalau cara marah-marah atau bentak-bentak orang lain adalah cara yang selalu digunakan untuk berinteraksi, ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak punya cara lain untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan kecuali marah-marah.

Referensi:
Ekman, Paul. Anger Can be Useful. 2017.

(Visited 237 times, 2 visits today)

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

2 thoughts on “Kenapa Marah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.