Keikhlasan Hati (Bagian 3)

“Kamu hari ini gak ada acara kan? Kita ketemuan aja deh Di, biar enak ngejelasinnya”
“Boleh, Dimana?” Tanya Didi dengan antusiasnya.
“Ayah! Ayah!”, Nita memanggil ayahnya dari dalam rumah.
“Ayah disini Nit! Sebentar ya Dayat, ada gangguan sebentar” Didi menghentikan sejenak pembicaraan di HP nya.
“Oh Ayah ada diluar toh, Ayah! Kita mau berangkat beli tasnya jam berapa?” Tanya Nita.
“Hari ini ya….ehh Ayah lupa” Didi benar-benar lupa akan hal itu
Bersambung……..

“ Iya Yah, hari ini” , tegas Nita.
“Oh iya Nak, siangan aja ya berangkatnya? Gak apa apa kan”
“Halo! Dayat”
“Ya halo, gimana Di, bisa ketemuan dimana nih?” Dayat melanjutkan pembicaraannya.
“Maaf Yat, tapi aku udah janji sama anakku hari ini mau antar dia. Tapi kalo pagi ini, saya sih masih dirumah” Jawab Didi.
“Oh ya udah pagi ini aku ke rumahmu deh, sekalian ingin tau rumah mu” Dayat bersemangat sekali.
“Waduh, aku malu rumahku ini kecil Yat, tapi kalau kamu mau sih silakan aja. Masa aku nolak tamu sih”.
“Ok, aku segera siap-siap berangkat ya. Nanti aku telpon lagi ya kalo alamatnya susah dicari. Assalamu’alaikum!”, Dayat menutup pembicaraan telponnya.
Didi menyimpan kembali HP di atas lemari yang tadi. Namun Didi termenung agak lama mencoba memikirkan pembicaraan tadi dan menduga-duga apa sih yang akan dibicarakan teman lamanya itu, sebegitu pentingkah.
“Siapa Yah yang nelpon tadi?”
“Eh, ini Bu, teman lamaku, Dayat” Didi sedikit kaget ditanya istrinya yang baru saja keluar dari dapur.
“Kemarin, Ayah kebetulan bertemu dengan teman lamaku di sekolahan. Tadi dia nelpon katanya ada hal penting yang mau dibicarakan sama Ayah”, jelas Didi pada istrinya.
“Lalu…?”
“Lalu tadi dia bilang mau datang ke rumah kita pagi ini”
“Wah, mau kesini? Kok ayah gak segera bilang sih? Kita belum punya apa-apa untuk menyambut tamu”, istrinya panik mendengar hal itu.
“Lah, ayah juga baru dengar tadi bu. Ibu gak usah repot-repot nanti siapin aja yang ada, paling gak minum lah.” Didi mencoba menenangkan hati istrinya.
“Udah lah.. Ayah mau mandi dulu ya, mau siap-siap nih”
Matahari pagi sudah mulai menampakkan sinarnya, udara pun terasa semakin hangat. Akhirnya Dayat sampai juga di gang masuk yang menuju rumahnya Didi. Sesekali dia bertanya ke orang yang dilewatinya untuk memastikan arahnya sudah benar, sampai Dayat tiba di sebuah rumah kecil namun asri dengan banyak dihiasi tanaman. Tembok rumahnya berwarna hijau serasi dengan rak-rak tanamannya walaupun warnanya sudah pudar.
“Mungkin ini rumahnya”, gumam Dayat.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam! Alhamdulillah, Bu! Tamunya sudah datang nih”, Didi bergegas membukakan pintu dan menyambutnya.
“Wah, sampai juga kamu di rumahku”, Didi menyalami Dayat dan langsung mempersilakan duduk.
“Iya nih lumayan juga rumahmu, susah dicari tapi syukurlah banyak orang yang kutanya tahu rumahnya Pak Didi. Ternyata kamu tenar juga ya di lingkungan sini.”
“Ah bisa aja kamu, terima kasih ya sudah susah-susah datang ke rumahku”.
“Bu, mana Nita dan Diki? Suruh ke sini temuin tamu dulu”, Didi ingin memperkenalkan keluarganya.
Beberapa saat kemudian, Nita dan Diki datang menghampiri ke ruangan depan.
“Ayo Nita! Diki! Sini kenalkan teman lama ayah nih. Dayat, ini Nita anak pertama saya dan ini Diki”, Didi memperkenalkan anak-anaknya.
“Wah, anak-anakmu sudah besar-besar ya Di!”, Dayat bersalaman dengan Nita dan Diki.
“Yah begitulah, tak terasa ya waktu berjalan terus. Gimana kabar keluargamu Yat? Gak ada yang ngikut nih”, Didi membuka pembicaraannya.
“Alhamdulillah baik. Mereka semua sudah punya acara masing-masing”.
“Waduh maaf ya Pak, kami hanya bisa menyuguhkan minum saja”, istrinya Pak Didi datang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh panas dengan setoples rengginang yang masih hangat.
“Ayo silakan diminum! Pak saya ke belakang dulu ya”
“Iya bu silakan”
Dayat pun segera mengambil cangkir tersebut, dan meminumnya secara perlahan. Didi menemani tamunya dengan ikut meminum cangkir yang satunya lagi.
“Gimana nih ada kabar penting apa nih?” tanya Didi kembali membuka pembicaraan.
“Iya nih, Alhamdulillah perusahaan saya sudah berkembang pesat. Saat ini perusahaan saya ingin mengembangkan usaha di tempat yang baru, nah begitu bertemu dengan kamu kemarin, saya jadi teringat dengan cita-cita kita ingin sukses bersama. Kamu sudah membantu aku untuk sukses menyelesaikan studiku dulu, sekarang aku sudah menyelesaikan kuliah hingga S3, nah giliran aku ingin mengajakmu untuk sukses bersama”, Dayat menjelaskan dengan semangat.
“Sukses…. Ya kamu sudah terlihat sukses, tapi buatku…. Aku juga sudah merasa sukses menjalani hidup ini dan membina keluargaku ini. Apalagi?” Didi membantah pernyataan yang Dayat utarakan.
“Tapi kan… apakah kamu masih punya niatan untuk melanjutkan kuliahmu ke jenjang yang lebih tinggi?”
“Oh… selama ada kesempatan untuk itu, kenapa tidak. Tapi aku tahu diri dengan keadaanku sekarang dan aku bahagia menjalaninya” Didi kembali meminum teh nya.
“Iya Di, aku ini ingin menawarkan peluang untukmu. Jadi manager perusahaanku yang di Kalimantan. Nanti kamu bisa lanjut kuliah S2 dengan dibiayai perusahaan, gimana…?”, Dayat langsung menyampaikan tujuan utamanya.
“Apakah aku gak salah dengar Yat?”, Didi masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Bersambung lagi…

(Visited 19 times, 1 visits today)

Leave a Reply