Kaulah Rumah Bagiku

Banyak hal lahir dengan atas nama cinta. Cinta membuat rona  bahagia mengitarinya dari senja sang jelita hingga melewati gulita dengan gemerlap bintang. Dan sang fajar menjemput dengan membawa segala keberkahan yang Allah tuang kepada yang dikehendaki.

Tak pernah dipungkiri, sejak Allah mempertemukan Kamila dengan pemilik tulang rusuknya senyuman itu selalu mengembang. Senja di ujung dermaga bagian tengah Jawa menjadi kisah yang tak pernah lekang dalam hidupnya. Ikatannya semakin merekat bersama janji suci yang diikrarkan sejak hari itu. Hari yang takkan pernah lenyap karena seluruh penghuni langit meng-aamiinkannya.

“Saya terima nikahnya Kamila Khumaira binti Mahmud dengan mas kawin tersebut, tunai.” Kalimat lugas yang diikrarkan Akram  dan di-aamiinkan oleh semua yang hadir membuat Kamila yang berada di balik pintu kamar kuyup dengan bulir bening yang sudah tak terbendung lagi.

“Terima kasih Allah atas anugerah-Mu ini, Engkau izinkan aku lahir dari rahim wanita hebat yang menjadi panutanku dalam melangkah. Dan kini Kau hadirkan sosok lelaki yang berhati mulia untukku.” Kamila dalam sujudnya ketika mendengar kata SAH di ruang tengah yang digunakan sebagai ijab qabul.

Kalau rindu harus tentang pulang, itulah Akram dan Kamila. Mereka bagaikan jantung dengan detak dan nadi dengan denyut. Tak ada alasan untuk berlama-lama di tempat mereka bekerja. Setiap detik menjelang waktu pulang mereka selalu berkabar ria.

“Dik, Abang sudah di depan kantor,” enam kata yang sama dan selalu diulang ketika waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB selalu dilayangkan kepada si pemilik separuh jiwanya. Abang, bisa apa aku tanpamu. Caramu selalu membuatku terpana, kau selalu mencium keningku ketika mengantar atau menjemputku. Tak risau meski banyak pasang mata yang menatap. Sekerjap desah Kamila  sebelum melangkah menemui sosok yang dicinta.

Aku mencintaimu karena Allah. Kalimat yang selalu mengalir setiap matanya terbuka di sepertiga malam dan merasuk ke dalam qalbu.

 

Mereka selalu menyelami satu sama lain. Akram tak sekalipun melarang Kamila untuk tetap berkarya, memberi ruang untuk merangkai aksara demi aksara. Begitupun sebaliknya, Kamila selalu mensupport sang suami dalam berdakwah.

 

(Visited 6 times, 2 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.