Kaulah Bintang Sesyurga

Seperti berjuta bintang

Di langit sekolahku

Cahyanya bersinar terang

Antar kau dan aku pulang……

Sepenggal lirik lagu yang berjudul “Berjuta Bintang”karya Pak Nunu, seorang guru hebat Sekolah Alam Indonesia.

Bagiku lagu ini mengisyaratkan tentangnya, yaitu tentang dia, dia, dan dia. Dialah pemilik senyum-senyum indah yang bertebaran di langit sekolah. Dan siapakah dia itu? mari ikut aku merangkai kata dan pasti anda akan menemukan jawabannya! Asyiik…

Jilid I

Aku Bisa Melakukannya.

Tak pernah kupungkiri hati ini terpikat olehnya. Memang bukan pandangan pertama hati ini jatuh padanya, tapi Allah mengikat hatiku untuk memilihnya.

Satu demi satu Si Pemilik boots  turun dari kendaraan yang menghantarnya sampai di halaman sekolah. Tak lupa senyumannya menyapa pagi dengan membawa berjuta makna dan harapan.

“Assalamu’alaikum, Pak guru…”

“Wa’alaikumussalam, nak…”

Aiiih…senyuman indah saling menyapa hangat. Sehangat semburat cahaya pagi memeluk bumi disertai nada-nada cinta. Dan suara langkah bootnya semakin berirama, bersenandung kebahagiaan.

Ray sepatu boot kamu belum dirapikan tuh!” Jasmine mengingatkan seorang temannya.

“Iya, nanti dulu,” jawab Ray dengan bermuka masam.

“Ayo Ray, benerin dulu, lihat deh, di depan kelas jadi kelihatan tidak rapi!” jelas gadis cantik bermata sipit itu kepada temannya.

Gadis cantik ini terus berjalan menaiki tangga kelas dengan menggendong tas di punggung. Ia lalu menghampiri temannya, mengingatkan untuk merapikan sepatunya.

“Iya, aku benerin sekarang, Jasmine,” Ray menuruni anak tangga dan merapikan sepatu bootnya.

“Terima kasih, Ray, depan kelas kita jadi terlihat indah dan rapi.” Jasmine mengapresiasi temannya.

Maa Syaa Allah, itulah anak-anak, ia belajar dengan meniru orang dewasa. Ia belajar betapa pentingnya kerapian dan keindahan kelas, selain itu ia pun mengajarkan kita untuk menjaga apa yang Allah berikan dengan baik.

Sungguh indahnya warna merah, kuning, hijau , dan biru mewarnai rak sepatu di saung kelasku.

Aku Suka Makan Sayur.

“Asyiiik…menu kita hari ini sayur bayam, hemmm sayur bayam is yummy,” Rere dan teman-temannya berteriak senang.

“Oh tidak! aku tidak suka sayur! Nabil teriak ketika mendengar menu makan bersama sayur bayam.

“Nabil, kata bundaku, sayur bayam itu sehat, kita jadi kuat loh seperti popeye,” Rere mendekati Nabil.

“Masa siih, sayur bayam bisa membuat kita seperti popeye? Aku tidak percaya, bayam itu rasanya tidak enak!” Nabil mengernyitkan matanya.

“Iya, tanya saja ke bu guru kalau kamu nggak percaya!” Rere mengajak Nabil ke arah Bu Ais.

“Bu Ais, apa benar bayam itu bisa membuat kita seperti Popoye?” tanya Nabil dengan masih nada tidak percaya.

Bu Ais pun menjelaskan kepada Nabil dan Rere tentang pentingnya kita makan sayur.

“Teman-teman, di dalam sayuran itu mengandung zat yang dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, termasuk dengan sayur bayam. Jadi kalau kita sering makan sayur, In Syaa Allah tubuh kita semakin sehat dan kuat.”

“Ooh begitu, berarti kalau aku makan bayam aku bisa kuat seperti Popoye dong, Bu guru,” tanya Nabil

“In Syaa Allah, kalau Nabil makan bayam, Nabil semakin kuat.” Jelas Bu Ais.

“Bu guru, mulai sekarang aku mau makan sayur ah,” celoteh Nabil dengan polos sambil mengangkat tangannya.

Maa syaa Allah, guru-guru hebat dari bocah-bocah cilik ini membuat hatiku mengharu biru. Saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain. Ternyata kegiatan rutin satu pekan sekali, yaitu makan bersama dengan menu yang sama pula tersimpan segudang ilmu yang bisa kita petik.

“Rere, sini nak, terima kasih ya sudah memberikan contoh yang baik untuk teman-teman, kamu hebat.”

Bu Ais menggenggam dan memeluk Rere. Seorang gadis kecil berusia lima tahun ini sangat hebat. Pun dengan Nabil, ia belajar menyukai hal-hal yang awalnya tidak disukainya.

Sejalan dengan waktu yang terus berjalan, bintang-bintang itu tumbuh semakin bersinar, setiap hari ia adalah guru bagiku. Dua kisah dari dua saung kelas kecil ini mengajarkan kita pentingnya saling mengingatkan, menerima, mencoba, dan memakluminya, serta memberi kesempatan untuk belajar.

Menjadi guru untuknya, membuat rasa syukur ini selalu melangit. Terima kasih Allah atas anugerah-Mu. Semoga mereka adalah bintang-bintang sesyurgaku, aamiin.

(Visited 31 times, 3 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.