Jendela Raksasa Tanpa Tirai

“Tok..tok..tok…Mas, ayo cepat mandinya, nanti aku kesiangan nih,” Devi merengek dan uring-uringan di depan toilet.

“Kenapa, Nak? Pagi-pagi kok seperti di pasar toh,” sepertinya ibu yang sedang sibuk di dapur tak sabar mendengar rengekan putri bungsunya itu.

“Ini bu, Mas Dafa mandinya lama sekali,” jelas Devi dengan suara manjanya.

“Sabar toh cah ayu, sebentar lagi pasti masmu selesai,” inilah jurus pamungkas ibu, belaian dan ucapannya selalu membuat rengekanku berhenti.

Penghuni rumah ini cukup mengerti, aku selalu ingin datang ke sekolah pagi sekali. Namun, mas Dafa adalah manusia terusil yang kukenal. Dia sering menciptakan keributan di pagi hari, ya seperti pagi ini.

Pagi ini terasa sejuk dan indah sekali. Setelah semalaman hujan turun, cahaya matahari menyiram halaman sekolah dengan kemegahannya. Bullir-bulir embun menyisakan dirinya di setiap ujung dedaunan yang menghias di sekeliling saung kelasku. Begitu juga dengan rerumputan yang terbentang di tanah lapang dengan beberapa kubangan kecil, sengaja boots ini melewatinya agar terbentuk sebuah irama, percikkannya terlihat basah di balik rumput segar yang membuat udara terasa sejuk. Inilah sekolahku keindahannya sungguh menyatu dengan alam. Setiap pagi tiba, aku tak mau melewatkan kesejukan ini. Berdiri di jendela raksasa saung kelas dengan menikmati sejuknya udara pagi.

Sekolahku memang berbeda dengan sekolah lain. Ya, lihat saja bangunan kelas ini, tanpa ada dinding yang membatasi mataku untuk melihat bunglon yang hinggap kesana-kemari, serta menangkap kegiatan-kegiatan di luar saung. Yang ada hanya bangunan kayu beratapkan jerami dan jendela raksasa tanpa tirai aku menyebutnya, karena setiap saung kelas di kelilingi jendela tanpa tirai. Ini yang selalu membuat rindu membuncah.

Selalu menjadi siswa pertama yang datang di kelas. Ketika sampai di kelas langsung membentangkan tangan di tengah jendela raksasa sambil menatap sungai yang airnya setia mengalir dengan senandung dzikirnya. Manusia paling hafal urutan-urutan temannya yang datang setiap detik dan menitnya. Hiiih…itulah aku, Devi Putri Larasati si penjaga jendela raksasa.

Doaku pada-Mu Ya Allah, ijinkan aku setiap pagi menikmati sejuknya alam di pagi hari dan merasai hangatnya mentari ketika menyapa dengan lembut. Disini, ya disini, di jendela raksasa tanpa tirai saung kelas sekolah tercinta akan menjadi saksi terwujudnya sebuah harapan yang teruntai dalam setiap doa.

Terima kasih Allah, Kau cipta pagiku dengan indah. Terimalah sembah sujudku selalu pada-Mu.

(Visited 176 times, 6 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

4 thoughts on “Jendela Raksasa Tanpa Tirai

Leave a Reply