“Jelajah Pertamaku”

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada yang kuasa

Cinta kita di dunia…. 

Sepenggal lagu “Laskar Pelangi” maemberi makna yang dalam ketika bersama mereka, yaitu bersama bocah-bocah sekitar usia delapan tahun. Ini memang bukan pengalaman baru bagiku, tetapi setiap pengalaman selalu menginspirsi dan  membuat hati membiru. Rangkaian kata-kata cinta dan syukur tak pernah lekang. Ya, cerpen ini adalah sepengggal kisah pertamanya.

“Ibu, kapan kita sampai? Aku sudah tidak sabar nih,”

“Insyaa Allah sebentar lagi, Nak.”

“Berapa menit lagi, Bu?”

“Insyaa Allah sepuluh menit lagi kita akan sampai.”

“Asyiiiik…”

Perjalanan awal yang mengasyikkan tentunya. Celotehan dan candaan mengiringi perjalanan dari sekolah hingga sampai di tempat nge-camp pertamanya. Sumringah terpancar di raut wajahnya. Alhamdulillah, Allah mengantar perjalanan selamat tanpa halang.

“Ibu, aku penasaran dengan tenda kita, kira-kira di mana ya?” Ahaa, sepertinya kalimat tanya berkeliaran di alam bawah sadarnya. Pertanyaan yang terucap mengisyaratkan hal itu. Dan waktulah yang mampu menjawabnya.

Tenda-tenda berukuran 210 x 240 cm berjejer rapi di bawah bentang langit biru dan berhiaskan pepohonan hijau yang tumbuh subur. Satu hal lagi yang membuat rasaku melangit, yaitu si penghuni tenda tersebut.

Teriring dengan bulir-bulir cinta yang mengalir hingga sang senja datang. Ibarat air yang mengalir begitu bening menghilangkan dahaga. Takbir maghrib berkumadang menyatukan rasa panjatkan doa pada Illahi. Berdzikir bersama memohon penjagaan dari segala arah.

“Bu, kapan kita tidur di tenda?” seorang gadis bermata tulus berbisik padaku.

“Sebentar ya, Zi, masih ada kelompok lain yang belum tampil, kamu sudah ngantuk ya, Nak?” Balasku berbisik padanya.

Zi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Aku semakin penasaran dengan bocah satu ini.  Eng-ing-eng, ternyata bukan  hanya Zi, tetapi pemilik mata tulus lainnya pun sama, yaitu ingin segera kembali ke tenda.

“Ibu, sini deh,” Na, bergantian berbisik.

“Kami itu  ingin main perang-perangan dengan cahaya head lamp di dalam tenda,” jelas Na. Ooh, ternyata bukan rasa kantuk yang membuatnya ia ingin segera datang ke tenda.

Malam semakin larut. Suara jangkrik di balik semak belukar pun semakin bernada. Satu demi satu kegiatan malam itu terselesaikan dan saatnya anak-anak merebahkan tubuhnya di dalam rumah kain beralaskan matras. Bocah-bocah hebat ini sangat bahagia menikmati kegiatan di dalam tenda tersebut. Cahaya senter dan celotehannya terukir di malam itu.

“Teman-teman, sekarang sudah malam, saatnya tidur ya, karena nanti jam dua akan dibangunkan,” lembut kuingatkan padanya.

“Baik, Bu,” jawab anak-anak. Setelah membaca doa anak-anak pun mulai berusaha memejamkan mata.

Di bawah langit malam aku dan teman-teman duduk di atas matras yang terbentang di depan tenda anak-anak. Tiba-tiba terdengar isakkan dari sebuah tenda. Aku pun bergegas menghampirinya.

“Bu, aku nggak bisa tidur, Ibu jangan pergi!” Ai duduk bertekuk lutut di antara tiga temannya.

“Kenapa, Ai sayang?” tanyaku.

“Aku gerah, aku juga kangen sama Ummi.” Pelukkan erat Ai menandakan rindunya yang melangit pada orang yang tercintanya.

Rindu menyerang padanya saat menjelang tidur. Tidak hanya Ai yang merindu keluarganya, teman-temannya pun merasakan hal yang sama, bahkan beberapa anak terserang mual dan demam mendadak.

Seperti yang pernah dikatakan oleh psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, M.Psi. bahwa di usia tertentu, anak bisa mengalami separation anxiety, di mana timbul rasa cemas saat terpisah  dari figur yang selama ini dekat dengannya, baik itu Ayah ataupun Bundanya.

Perjuangan  memejamkan mata di tempat yang tak biasa. Sebuah tenda tanpa alas empuk. Gerah menyerang tanpa alat pendingin yang menyejukkan. Berusaha terlelap tanpa belai kasih Ibu dan tanpa mendengar dongeng pengantar tidurnya dari Abi.

Alhamdulillah seiring waktu, doa dan peluk kasih yang terus mengalir mampu menghantar anak-anak hebat ini tertidur di alam terbuka untuk pertama kalinya. Ujiannya pun belum selesai di sini. Ketika baru terlelap, mungkin baru beberapa menit, anak-anak harus bangun untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Setitik embun pagi menemani penjelajahan di sepertiga malam. Kantuk dan dingin menjadi teman malam.

Berbaris bagai seorang mujahid-mujahidah yang akan bertempur melawan kebathilan. Sepatu boot yang dikenakan sebagai saksi langkah menembus lorong dan semak belukar. Setitik cahaya head lamp menjadi penerang rasamu menghilangkan takut di gulitanya malam.

“Han, lihat! Ada bintang di atas sana.” Na berteriak menunjuk ke atas langit.

“Iya, itu ada lagi,” Han pun memandang dan menunjuknya.

“Ibuuu…di atas langit banyak bintang,” anak-anak berteriak bersama menunjuk sebuah bintang yang menghias indah.

“Masyaa Allah, Allah mengirimkan bintanng-bintang sebagai teman jelajah malam kita, ucapkan apa?”

“Alhamdulillah…”

“Ibu, aku sangat senang ikut pra OTFA ini dan aku siap ikut OTFA nanti.”

Rangkaian aksara kutata tanpa suara, membungkus sebuah kegiatan penuh makna. Kemandirian, keberanian, dan  kesabaran adalah sebuah proses pembelajaran kegiatan ini. Perasaan takut yang menyelinap ketika trakking malam telah lenyap bersama gemintang. Nada-nada terucap mengalun menjadi irama bersenandung merdu pengalaman pertamanya.

(Visited 33 times, 1 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply