Jejak Pemuda Di Gunung Gede

Sebuah puisi tercipta dari seorang pemuda Sekolah Alam Indonesia (tidak mau disebutkan namanya) yang ikut membersamai menjelajah gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Saat mentari tiba.
Langkahku mulai beraiap dalam barisan.
Mendekat, ya, semakin dekat menyatu dengan harumnya pepohonan yang menjulang.
Jiwa ragaku pun mulai merasakan kekuatan alam bersama hbusan semilir angin.

Sang komandan barisan mulai berdiri tegak di hadapan.
Suaranya mulai mengalir.
Bersbisik ke dalam qalbu mencari sebuah isyarat.
Oh Tuhan, mampukah diri ini menakhlukkan bebatuan yang menjulang di sana?
Entah!

Entahlah, ragu masih singgah di sini.
Ah, mengapa ragu membisik?
Dan mengapa hati terusik?
Aku berlindung pada-Mu ya Rabb dari godaan yang terus mengusik.

Oh, langit biru membentang luas.
Hijaunya alam terbentang dalam pandang.
Hangat mentari pagi dan dinginnya malam menyatu merasuk relung.
Membayang, kan menemani pendakian.

Dan…
Kekuatan!
Aku membutuhkan kekuatan itu.
Kekuatan yang akan menghantar setiap perjalanan.

Bismillah…

Kakiku mulai melangkah dengan beban tak ringan.
Kakiku mulai terseok-seok, terseret langkah kecil, nun tetap meniti.
Dan nafasku mulai terengah, bahkan terkadang tak terkendali.
Hutan ilalang dan bebatuan terjal yang siap menyeret tubuh menanti.

Braaaakkkkk…
Aku terjatuh terbentur bebatuan.
Sakit? Terluka? Tentu saja menjalar.
Tetiba, ketika ku duduk sendiri menahan lara.
Wajahnya menyelinap dan membisik indah.
“Sertakan Allah dalam setiap langkahmu, Nak, Insyaa Allah kekuatan-Nya akan selalu hadir menolong dan hilangkan rasa sakit yang menderamu.”

Terima kasih Ibu.
Karena cintamu menghantarkan Cinta-Nya padaku.
Karena kasihmu mendamaikan jiwaku.
Dan karena doamu selalu terasa mengalir dalam aliran darahku.

La Haula Wala Quwwata Illa Billah…

Malam mencekam beratap langit kelam.
Tak ada bintang berkelip.
Tak ada rembulan tersenyum.
Yang ada hanya suara dedaunan yang mencekam.

Dinginnya angin malam mulai menusuk belulang.
Bahkan gemericik menambah keheningan.
Di balik rumah kecil berbahan kain ini tubuhku berlindung.
Termenung.

Menyelami ayat Allah yang semakin mendekat, mendekap merasuk relung.
Ternyata bukan tangan atau kaki yang membawa raga ini berpijak di atas puncak.
Namun, Allah yang terus menuntunku melangkah, terus melangkah, dan terus melangkah.
Hingga puncak kutakhlukkan.

Oh tidak! Bukan! Bukan itu!
Bukan puncak gunung yang berhasil kutakhlukan.
Namun, sesungguhnya lelah yang menyerang mempermainkan emosi dan kesabaranku.
Itu, ya, itu dia! Hal utama yang mampu ku takhlukan.

Semua karena Allah mencintaiku.
Semua karena Allah memelukku
Dan semua karena Allah selalu bersamaku.
Mengajarkanku agar selalu berdamai dengan alam ciptaan-Nya.

(Visited 28 times, 8 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply