Ingatanku untuk Bertahan

Anakku, kita memang belum bertemu, namun sudah banyak yang kurencanakan. Sedikit berlebihan memang.

Anakku, saat di kandunganku seluruh anggotamu gerak menekuk karena keterbatasan ruang. Kelak posisi yang nanti kamu gunakan untuk melindungi diri, dari ancaman atau sekedar udara dingin. Jika kamu dalam posisi ini, artinya kamu merasa tidak aman, mintalah pelukan.

Anakku, ketika kamu lahir banyak hal yang kamu terima dan kamu akan kewalahan memprosesnya. Menangislah, karena tandanya kamu butuh ditenangkan. Dunia ini memang memberi terlalu banyak nak, termasuk ibumu.

Anakku, Allah mengajarkanmu untuk tegak secara perlahan mulai dari kepala, leher, punggung, panggul hingga kakimu. Tanpa perlu dipercepat, kamu akan mengumpulkan kekuatan menegakkan semuanya sesuai dengan masanya. Sebagai ibu, aku menginginkanmu berlari saat itu juga. Maklumilah, bertahan terhadap prosesmu membutuhkan kesabaran.

Anakku, ketika kepala dan lehermu mulai tegak, lihatlah hal-hal di sekitarmu. Jika lapang pandangmu terbatas, tak apa. Tak semua harus terlihat jelas saat itu juga. Gerakan kepalamu akan ditopang oleh leher. Lehermu akan menahan kepala untuk tegak menghadapi tantangan dan rintangan atau menekuk karena kelelahan, beristirahatlah.

Anakku, perlahan punggungmu akan menegak dengan bantuan lenganmu. Dadamu akan terlebih dulu, perlahan punggungmu mengikutinya. Pundak dan dadamu yang tegak akan banyak menanggung beban. Biasakanlah nak, karena itu akan membuatmu berdaya. Mintalah untuk pundak yang lebih kuat dan dada yang lebih lebar hanya pada Allah.

Anakku, ketika kamu duduk, batang tubuhmu mulai tegak sempurna. Lihatlah pemandangan di sekitarmu yang bertambah tinggi dari sebelumnya. Kepala hingga pinggangmu berkoordinasi untuk mendukung lebih banyak gerakanmu. Ingatkan aku untuk tidak mempercepat itu semua. Nanti saja berdirinya.

Anakku, merangkaklah. Pertama kalinya badanmu akan menjauhi gravitasi bumi tanpa bantuanku. Perutmu akan bergantung dan punggungmu akan menahan agar tak jatuh. Tangan dan kakimu akan bergerak masing-masing dan berkoordinasi untuk menciptakan harmonisasi gerakan tubuhmu. Panggulmu akan menahan untuk tetap melawan gravitasi agar kamu bebas menjelajah. Jika kau terbentur atau terluka, menangislah jika memang sakit. Ingatkanku untuk tidak menyalahkan benda-benda yang membuatmu menangis karena itu takkan membuatmu berdaya.

Anakku, tungkai kakimu perlahan mulai tegak dan menyokong tubuhmu untuk berdiri. Jari-jari kakimu masih menekuk karena menunggu giliran. Kamu akan banyak berjuang disini, nak. Berdiri, jatuh lalu berdiri lagi akan kamu ulang berkali-kali. Kamu menumbuhkan daya juang untuk tidak menyerah. Terkadang aku menolongmu untuk tegak. Ibumu tak sabar melihat prosesmu.

Anakku, selangkah demi selangkah kamu mulai meninggalkan tempat berdirimu. Tak ada yang mulus awalnya. Namun kamu akan mengumpulkan tenaga dan seluruh bagian tubuhmu berkoordinasi untuk melangkah. Aku akan berteriak kegirangan melihat langkah pertamamu. Karena di mataku langkahmu terlihat seperti langkah Ibnu Batutah ketika memulai petualangannya menjelajahi bumi ini. Lebam dan luka yang kamu dapatkan takkan kamu ingat detilnya tetapi kamu simpan rasanya.

Anakku, langkahmu yang tertatih-tatih itu menjadi lebih pasti karena tubuhmu mulai terbiasa akan harmonisasi gerakan baru. Kamu akan berlarian dan aku kelelahan mengikutimu. Kamu sedang mengumpulkan kemampuan untuk menjelajahi bumi Allah ini. Bertahanlah untuk tetap melangkah dan berlari. Tugasku memang untuk khawatir karena aku ibumu.

Anakku, tak cukup bagimu melihat di ketinggian seukuran tubuhmu. Kamu akan memanjat semua yang kamu temui. Jika nanti terdengar teriakanku ketika kamu memanjat, jangan terkejut. Bagiku kamu seperti memanjat menara paling tinggi di dunia.

Anakku, semua membutuhkan waktu. Tak perlu memintamu bertahan terhadap proses karena secara fitrah kamu punya kemampuan itu. Akulah yang perlu untuk bertahan dan menikmati prosesnya. Tak usahlah aku mengajarimu berjalan ketika kamu tengkurap karena belum saatnya. Jangan heran, nak, aku lupa jika dulu aku pun mengalaminya.

Tegaklah Nak, langkahkan kakimu dan berlarilah karena dunia ini terlalu sempit jika hanya dihabiskan di pangkuanku. Mintalah pelukanku jika kamu membutuhkannya tanpa harus merasa sungkan.

Penuh cinta,
Ibumu.

(Visited 323 times, 2 visits today)

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.