Incidental Moments

Beberapa hari belakangan ini terik matahari sangat terasa membakar kulit. Jika saya keluar sebentar saja menuju masjid, aura panasnya sampai ke muka, padahal mengenakan helm yang kacanya tertutup rapat. Selidik punya selidik, saya baca di facebook Sekolah Alam Indonesia tentang fenomena kulminasi. Oh rupanya hari ini (9 Oktober 2018), matahari tepat di atas Kota Jakarta pada pukul 11.40 WIB. Subhanallah, pantas saja saya merasa tidak biasa. Kok di musim penghujan, panasnya dahsyat.

Jika merujuk kata kulminasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah (1) puncak tertinggi; tingkatan tertinggi; dan (2) titik tertinggi yang dicapai suatu benda langit dalam peredaran (semunya) mengelilingi bumi. Biasanya terjadi tengah hari, yaitu pada pukul 12.00 WIB. Kali ini sedikit berbeda. Tim dari BMKG melalui pusat seismologi teknik geofisika potensial dan tanda waktu melakukan pengamatan di lapangan kantor BMKG dengan menggunakan peralatan teodolit digital nicon 103, menginformasikan titik kulminasi terjadi pada pukul 11.40 WIB. https://www.bmkg.go.id/berita/?p=pengamatan-titik-kulminasi-matahari&lang=ID.

Menurut penjelasan tambahannya dinyatakan bahwa fenomena kulminasi terjadi karena bidang ekuator bumi/bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit pada bidang revolusi bumi, sehingga posisi matahari dari bumi akan terlihat terus berubah sepanjang tahun antara 23,50LU – 23,50 LS. Ini yang disebut sebagai gerak semu harian matahari. Wah, jadi incidental moments buat anak-anak belajar, pikir saya.

Sayang dilewatkan peristiwa langkanya, karena terjadinya tidak sepanjang tahun. Ini yang dinamakan pembelajaran insidental. Orang tua dan guru perlu mengabadikan peristiwa alam menjadi pembelajaran. Menyampaikan dengan firman Allah akan membangun kedekatan dengan Sang Penciptanya. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fussilat [41] : 37).

Saya jadi teringat ketika masih aktif mengajar. Banyak peristiwa yang bisa dijadikan pembelajaran incidental moments. Meledaknya ulat bulu di ruang-ruang kelas, merapatnya kendaraan beco alat berat di sekolah, kelas kontainer sebagai ruang guru, dan lain-lain. Guru memberi kebebasan sesaat, memenuhi rasa keingintahuan anak-anak. Akan banyak pertanyaan di sana. Bisa jadi sebagian pertanyaan tidak diketahui jawabannya. Bisa jadi pengetahuan guru terbatas. Bisa jadi anak-anak lebih tertarik dengan hal-hal yang baru saja dilihatnya.

Paling penting adalah jawaban jujur guru. Jika masih bisa dijawab, bisa ditanyakan balik kepada si anak. Siapa tahu hanya menguji gurunya saja sekaligus merangsang penalarannya. Jika tidak tahu atau ragu, jangan berbohong. Yuk kita cari informasinya di perpustakaan atau googling informasinya.

Anak belajar, kita juga belajar.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.bmkg.go.id/berita/?p=pengamatan-titik-kulminasi-matahari&lang=ID

(Visited 6 times, 6 visits today)