Ibu adalah Guruku dan Inspirasiku

                                                                                                                    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

“Ayah, ayo kita makan, masakan sudah siap nih…” wanita itu memanggil suaminya yang masih sibuk membersihkan taman di serambi rumah.

“Waah…harumnya masakan ibu, semakin membuat perut ayah keroncongan nih ” tiba-tiba sosok lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu sudah ada di belakangnya.

Bahagianya melihat keharmonisan keluargaku. Meskipun ayah dan ibu bekerja, aku dan adikku tidak pernah kekurangan kasih sayang mereka. Bahkan untuk kegiatan sarapan dan makan malam selalu kami lakukan bersama. Seperti halnya malam ini, tahu penyet dan sop ayam terhidang di meja makan.

“Hemmm lezatnya sop ayam ini, masakan ibu memang TOP BGT,” ucap ayah sambil mencicipi sop yang terhidang.

“Ups, ayah salah, ini bukan masakan ibu loh,” ibu melirik gadisnya yang merona.

“Kalau bukan masakan ibu, pasti ini masakan jagoan ayah, benarkan?” ledek ayah sambil memeluk adek yang duduk di sebelahnya.

“Iii…ayah sama ibu nih, kapan kita makan kalau begini terus? Sudah lapar nih,” gadis berparas ayu berceloteh malu.

Nuansa hangat selalu terciptakan ayah dan ibu. Kasih sayang mereka tak pernah lekang oleh waktu. Doa ibu selalu memperkokoh bangunan cinta di antara kami.

“Ibu, masakan ibu kan selalu enak nih, apa sih resepnya agar masakan kita selalu enak?” Hasna merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu.

“Oh itu toh, begini cah ayu, masakan kita bisa selalu enak kalau kita rajin belajar memasak, mencoba dan mencobanya. Oh ya, ada resep rahasia yang tidak boleh ketinggalan ketika kita memasak.” Sang ibu membelai anak gadisnya.

“Resep rahasia? Apa itu, ibu?” Hasna tak sabar tentang resep rahasia yang digunakan ibunya setiap memasak.

CINTA. Ternyata itulah resep yang digunakan ibu selama ini. CINTA, satu kata berjuta makna yang merasuk ke dalam jiwa. CINTAnya mengajarkanku untuk dapat menumbuhkan benih-benih kebaikan kepada orang lain tanpa pamrih.

Sedari dulu kasih sayangnya sejalan dengan kesabarannya, terbukti jelas dengan bagaimana ibu mencintai anak-anaknya. Aku sangat bangga padanya.

Kejadian beberapa tahun silam yang menerpa adik tercintaku sewaktu ia masih kelas bermain. Adikku adalah anak yang aktif, karena keaktifannya tersebut kerap orang lain marah padanya, termasuk dengan gurunya. Namun, ibu tak pernah membalas kemarahannya, ia tetap bijak menyikapi permasalahan yang ada. Bahkan ibu mengingatkan kita untuk selalu introspeksi diri.

“Ibu, terima kasih, ya, ibu selalu percaya kalau adek ini anak baik, padahal selama ini tidak ada orang yang percaya kalau adek anak baik, termasuk dengan guruku.” Kalimat adikku yang kerap diulang ini bagaikan cambuk.

Hanya ibu ketika anaknya terpuruk mampu merangkul dengan doa dan memberikan energi positif padanya. Hanya ibu yang bisa mengubah tetes lara menjadi suka. Hanya ibu yang mampu menjadi penerang ketika gulita menyelimuti anak-anaknya. Dan hanya ibu yang mampu mengajarkan penuh cinta untuk menjadi penolong dalam keadaan lapang atapun sempit. Serta hanya ibu yang mengajariku menjadi manusia bijak.

Ibu bagaikan malaikat pelindung yang selalu sigap menjadi sandaran keluarganya. Tak peduli akan dirinya, bahkan lelah yang bertubi dan sakit yang menyerang tak pernah menjadi penghalang memberi kasihnya untuk orang lain. Ia bagaikan talang yang selalu mengaliri air dan airnya selalu bersih.

 

Ibu…

Kupersembahkan puisi ini atas nama cintamu yang tak pernah padam.

Kuukir namamu  dalam hati agar tetap bersemayam.

Ibu…

Bagiku rangkaian katamu adalah sinaran perindu.

Kecupanmu yang tak pernah lepas mampu hilangkan lukaku.

Dan pelukanmu adalah penuntunku mengarungi waktu.

Agar aku mampun meraih syurga yang ada dalam genggamanmu.

Ibu…

Kaulah guruku dan inspirasiku.

Aku mencintaimu karena Allah.

 

(Visited 31 times, 3 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply