Hoax Penculikan Anak

Saya jadi bertanya-tanya, apakah budaya bertutur itu sudah luntur? Apakah cerita penuh nilai itu semakin samar karena ketinggalan zaman?

Line Today tertanggal 02/11/2018 telah diunggah berita tentang acting penculikan anak di Jakarta yang diamankan pihak yang berwajib. Videonya viral, proses penyelamatan bocah yang disandera. Ternyata setelah diselidiki, motifnya iseng.

Masyaallah, tidak habis pikir dengan perilaku acting penculikan kemudian menyebar di sosial media, facebook. Tentu beritanya jadi heboh karena telah membuat resah masyarakat terutama yang tinggal di Jakarta. Indonesia, khususnya Jakarta sudah sedemikian mengkhawatirkan. Kotanya genting, tidak aman, sudah pasti tidak ramah.

Setiap orang tua pasti akan mengambil ancang-ancang untuk lebih protektif lagi terhadap pengawasan putra-putri tercintanya. Apalagi jika kedua orang tua bekerja. Rasa cemas tidak bisa dihindari. Merusak konsentrasi di lingkungan kerja dan tidak tenang.

Saya sepakat dengan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Arief Sulistyanto yang segera menindak pelaku penyebar berita bohong dengan menangkapnya. Sepakat seratus persen bahwa penculikan bukan informasi sepele, bukan untuk main-main. Jadi harus diganjar hukuman yang tidak ringan dan berefek jera.

Saya berpikir pendidikan tentang nilai keyakinan bangsa ini yang dituturkan orang tua atau guru kepada anak-anaknya atau anak didiknya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah budaya bertutur itu sudah luntur? Apakah cerita penuh nilai itu semakin samar karena ketinggalan zaman?

Apakah pelaku tidak paham dengan cerita ‘Anak dan Harimau’? Cerita tentang seorang anak yang suka berbohong. Suka membohongi semua orang yang berada di desanya. Tidak terkecuali ayah dan ibunya sendiri.

Cerita dimulai saat anak itu pergi ke sebuah bukit. Ketika sampai di puncak bukit, dia berteriak dengan suara keras sekali. “Tolooooong! Ada harimau!” Teriakannya membuat penduduk desa langsung berlari menuju bukit untuk menyelamatkan anak itu. Setelah sampai di puncak bukit, penduduk desa tidak menemukan harimau yang dimaksud. Saat itulah, si anak tertawa karena berhasil menipu orang-orang yang datang. Mereka sebenarnya marah, karena pelaku anak kecil, akhirnya ditinggalkan anak itu.

Cerita berlanjut, saat anak itu mencari kayu bakar untuk memasak makanan. Tugasnya mengumpulkan ranting-ranting pohon yang jatuh dan kering. Namun, saat hendak kembali pulang, tiba-tiba seekor harimau menghadang dan siap menerkamnya. Reflek anak itu berlari dan berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan.

“Toloooooong! Ada harimau!” Teriak anak itu berkali-kali. Walaupun suaranya menggema hingga terdengar penduduk desa, tapi mereka tidak menghiraukannya. Dipikir mereka, anak itu menipu lagi. Mereka mengabaikan teriakan anak itu.

Malang tidak dapat ditolak. Tak seorang pun penduduk desa datang menolongnya. Cerita selanjutnya bisa diterka apa yang terjadi.

Nah, berita hoax yang beredar sudah sangat meresahkan. Saya minta sadarlah. Jangan sampai pada waktunya, tejadi berita sebenarnya. Masyarakat abai dan tidak menganggap penting lagi.

Yuk, mari kita tetap menjaga kewaspadaan. Jangan lengah, tetap peduli.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.google.com/search?q=cerita+anak+tentang+berbohong&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiU0-m82LreAhXCqY8KHc71CD4Q_AUIDigB&biw=979&bih=469#imgrc=LALoZCRSSYGotM:

(Visited 11 times, 11 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply