Hari Ukhuwah Dunia

Saya terpana kembali ketika tanggal 2 Desember 2018 digelar acara reuni 212 dengan jumlah massa lebih fenomenal lagi, melebih sepuluh juta orang.

Saya terpana membaca penetapan tanggal 2 Desember sebagai Hari Ukhuwah Dunia. Hal ini tidak terlepas bermula dari gerakan merapatkan barisan pada tanggal 2 Desember 2016, di mana terjadi peristiwa bersejarah. 5.513.212 manusia (https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/16/12/05/ohou27415-menghitung-jumlah-peserta-aksi-212) dari seluruh Asia Tenggara berkumpul, menggelar aksi damai di Kawasan Monas (monumen nasional). Waktu itu ekornya memanjang di jantung Kota Jakarta. Memenuhi Monas dan meluber hingga ke jalan-jalan protokol tidak terbendung. Ibarat air bah yang tenang menggenangi Jakarta Pusat. Luar biasanya, berkumpulnya manusia sebanyak itu tanpa menimbulkan keonaran. Menjaga keamanan, kedamaian, bahkan kebersihan dari sampah makanan dan alas duduk.

Saya terpana kembali ketika tanggal 2 Desember 2018 digelar acara reuni 212 dengan jumlah massa lebih fenomenal lagi, melebih sepuluh juta orang (https://akurat.co/news/id-416133-read-perdebatan-soal-jumlah-peserta-reuni-212-di-monas-ribuan-atau-jutaan-ya). Wow, jumlah yang tidak sedikit. Saya yakin partai politik terbesar Indonesia tidak akan mampu mengumpulkan manusia sebanyak itu di satu tempat dan dalam keadaan damai dan terkendali.

Isunya tetap sama, menjalin ukhuwah Islamiyah. Seluruh ormas Islam berkumpul membangun kesatuan ikatan dan persaudaraan. Walaupun motifnya berbeda. 212 tahun 2016 tentang penistaan agama. Miris di negara sebesar Indonesia, mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia dengan ulama sebagai penggerak perjuangan bangsa malah agamanya dilecehkan. Saya mengapresiasi umat yang semakin dewasa. Tidak anarkis, tapi mengusungkan perlawanan dalam demontrasi tenang. Berkumpul, orasi, Shalat Jumat, dan bubar tanpa meninggalkan bekas kerusakan. Bahkan rumput pun tidak diinjak-injak. Subhanallah.

212 tahun 2018 tentang aksi bela panji Islam. Bendera tauhid yang dilecehkan. Dibakar dengan sorak-sorai kemeriahan dan kegembiraan seperti para jahiliyah menang perang. Berpesta pora, tidak ingat bahwa yang dibakarnya adalah bendera kalimat tauhid yang diagungkan umat Islam. Panji yang dipertahankan di medan perang hingga tetes darah penghabisan.

Lihatlah kisah Mush’ab bin Umair sebagai pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat amanah menggenggam panji Islam. Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang dalam Perang Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya. Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib. (https://kisahmuslim.com/4799-mushab-bin-umair-teladan-bagi-para-pemuda-islam.html).

Saya terpana, manakala tanggal 2 Desember dinobatkan sebagai Hari Ukhuwah Dunia. Bukan saja karena Indonesia sebagai tempat peristiwa itu terjadi, tapi karena solidaritas umat Islam yang sangat kuatlah membuatnya pantas diperingati sebagai hari yang bersejarah itu.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat: 10).

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.validnews.id/Massa-Reuni-Aksi-212-Padati-Monas–Polisi-Lakukan-Pengalihan-Lalu-Lintas-nwW

(Visited 30 times, 30 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

One thought on “Hari Ukhuwah Dunia

  • December 7, 2018 at 13:45
    Permalink

    Luar Biasa Kang Yudha. .Aku selalu suka tulisanmu.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.