Hari Tanpa Belanja

Beli dan beli sesuai keinginan bukan kebutuhan.

Saya baru tahu kalau tanggal 26 November diperingati sebagai Hari Tanpa Belanja. Kok ada ya? Tidak disangka ternyata puasa belanja pun bisa menimbulkan hal penting pada komunitas dunia. Ternyata Hari Tanpa Belanja diperingati sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme yang menjangkit umat manusia menjadi tamak dan rakus.

Tamak adalah sikap rakus terhadap harta dunia tanpa melihat halal dan haramnya. “Jika sifat rakus dibiarkan lepas kendali maka ia akan membuat seseorang dikuasai nafsu untuk sepuas-puasnya. Sifat ini menuntut terpenuhinya banyak hal yang menjerumuskan seseorang ke liang kehancuran,” kata Ibnu al-Jauzi rahimahullah.

Islam telah mengingatkan sikap rakus manusia ini jauh sebelum Hari Tanpa Belanja disosialisasikan. Khususnya dalam Quran Surat Fatir ayat 5, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah setan memperdayakan kalian tentang Allah.”

Sementara Hari Tanpa Belanja dimulai baru pada 1993 oleh Adbuster, sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Kanada. Tujuannya meningkatkan kesadaran kritis konsumen. Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.

Bagaimana dengan Indonesia? Adakah warga negaranya memikirkan kembali beberapa pertanyaan sederhana. Apakah saya benar-benar memerlukan barang tersebut? Berapa banyak yang sudah saya miliki? Apakah saya sering memakainya? Berapa lama masa pakainya? Bisakah jika hanya meminjam saja dari teman? Bisakah saya melakukannya tanpa barang ini? Apakah saya bisa membersihkan atau merakitnya sendiri? Apakah saya bisa memperbaikinya? Bagaimana dengan kualitasnya? Berapa harganya? Apakah dapat digunakan berulang-ulang? Apakah barang ini ramah lingkungan? Apakah bisa didaur-ulang? Apakah barang ini bisa ditukar dengan barang lain yang sudah saya punya?

Memang belum populer di Indonesia, apalagi jika mengingat sifat konsumtif para masyarakatnya. Jika tidak bisa digunakan atau bosan tinggal buang. Beli dan beli sesuai keinginan bukan kebutuhan.

Nah, kalau mengenai keinginan dan kebutuhan seringkali saya juga kebingungan. Apalagi jika budget berlimpah. Kalau sudah begini, istri saya yang mampu mengingatkan untuk mengerem belanja. Ingat-ingat untuk ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta. Memahami bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik.

Bisa dicoba yuk.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.entrepreneurshipinabox.com/12312/5-things-when-your-customers-stop-buying/

(Visited 6 times, 6 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.