Harga Sebuah Nasihat

Suatu saat kuminta nasihat pada seorang sahabat
aku tak layak, katanya
aku tersenyum dan berkata
jika setiap kesalahan kita perhitungkan
sungguh di dunia ini tak ada jua
orang yang layak memberi nasihat

Suatu masa kuminta nasihat pada seorang teman
aku tak bisa, katanya
aku pun tersenyum dan berkata
bila setiap kelalaian dipertimbangkan
benarlah tiada yang berharga
nasihat dari orang yang diminta

Suatu waktu kuminta nasihat dari seorang guru
katanya, apa yang kamu inginkan dariku
aku berkata dalam senyum
andai setiap orang sepertimu
sungguh kebahagiaan yang tak semu
menerima petuah dari penuntun ilmu

Suatu hari kuminta nasihat dari orang yang berilmu
katanya, apa yang kau perlukan dariku
aku ungkapkan curahan hati yang penuh
umpama seorang yang sesat dalam laku
teramat gembira ketika bertemu
jalan yang tiada berliku

****

Pernahkah rasa enggan datang bila diminta memberi nasihat kepada teman atau sahabat? sebab merasa bersalah, merasa terhina, tak pantas, dan sebagainya. Memang ada satu hal yg pasti, bahwa kita jama’ah manusia pasti punya kesalahan. Setiap anak Adam pasti bersalah dan sebaik-baik mereka adalah yg kembali (bertaubat) kepada Allah SWT.
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya.” (Q.S. Hud: 3)

Sahabat, jika selama ini kita jarang memberi nasihat kepada orang lain karena merasa jauh lebih pantas dinasihati, mendapat wejangan iman, ditegur bahkan dihukum sekalipun karena menumpuknya kesalahan yg kita perbuat. Maka ingatlah selalu amaran dari Sang Maha Bijaksana,
“…kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati (supaya menaati) dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Q.S. Al ‘Ashr: 3).

Sahabat, jika hari ini, mulai detik ini kita melakukan hal ini. Membudayakan saling menasihati kepada sesama sebagaimana kita membiasakan untuk memakan makanan tiga kali dalam sehari; sarapan, makan siang dan makan malam. Niscaya akan lahir sebuah generasi yang memiliki para penasihat. Bukan hanya sebagai ‘penasihat’ yang bertugas memberi nasehat kepada sang raja ketika kerajaan menghadapi permasalahan genting, pelik, atau membahayakan. Namun nasihat yang bisa kita dengar di lorong jalan, di emperan pasar, di pematang sawah, di taman-taman, di masjid, di kantor, di ruang kelas, di ruang tamu, di meja makan, di kotak masuk surel kita, bahkan sampai di beranda facebook  hingga halaman istana kepresidenan sekalipun.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Asy Syams: 8-10)

(Visited 80 times, 2 visits today)

Dwi N. Priharto

Masih berusaha membenahi jiwa dan raga, membangun manfaat pribadi kepada semesta. Pernah kuliah di Lombok, NTB dalam jangka waktu maksimal (7,5 tahun) karena sambil bermain bersama anak-anak, remaja, dan orang dewasa sebagai fasilitator lembaga outdoor/pengembangan diri yang didirikan bersama teman-temannya. Saat ini mengajar di salah satu sekolah yang kegiatannya tak jauh berbeda dengan 'sambilan' waktu kuliah, yaitu di Sekolah Alam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.