Guru Kecilku

Allah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya yang Dia kehendaki, tiba-tiba mereka gembira. QS Ar-Rum ayat 48.

Allah itu Maha keren dan Maha baik. Dengan kuasa-Nya, Allah menurunkan air hujan dan memberi kenikmatan bagi alam. Airnya pun selalu membawa suasana damai pada pengamatnya dan tak pernah lelah menjatuhkan tintik-rintik tersebut membasah menyuburkan bumi atas izin-Nya. MasyaAllah…

“Bu Gia, aku ke masjid dulu, ya…” tanpa menunggu jawaban guru kelasnya bocah lelaki berambut ikal dan berbulu mata lentik itu berlari kecil bersama rintik hujan yang masih setia memeluk bumi Sekolah Alam Indonesia. Ah, muridku yang satu ini memang selalu semangat dan tepat waktu ketika mau belajar Al Quran, semoga ia selalu istiqamah, aamiin. Bu guru Gia berbicara sendiri, tersenyum kecil dengan memandang punggung anak lelaki itu yang semakin jauh dari retinanya.

Lima menit kemudian Bu guru Gia menyusul anak-anak menuju masjid yang sedang mengikuti pelajaran Al Quran. Payung merah jambu melindungi tubuhnya dari kucuran air langit. Nada-nada yang tercipta dari langkahnya menambah syahdunya alam. Sejuk.

“Assalamu’alaikum…” sapa Bu guru Gia.

“Wa’alaikumussalam, Bu Gia, lihat ada guru baru!” Dea yang pertama kali menyambut kedatangan gurunya memperlihatkan pemandangan yang luar biasa itu. Seorang bocah memakai kaos berwarna merah sedang menjadi guru untuk teman-temannya. Menunjukkan setiap huruf hijaiyyah yang terukir indah di atas kertas putih berukuran A3. Pun dengan teman-temannya, ia menghargai apa yang dilakukan sahabatnya tersebut. Sosoknya yang unik membuat para sahabat dan guru-guru mencintainya. Ken, kamu selalu memberiku kejutan. Terima kasih Allah atas izin-Mu hamba memiliki kesempatan indah ini. Doanya dalam hati dengan keharuan yang memeluknya.

“MasyaAllah… kalian hebat sekali,” ucap wanita berperawakan semampai itu, lesung pipitnya pun menghias ketika ia bicara ataupun tersenyum.

Ken, terlahir berbeda. Sikapnya yang unik membuat orang yang mengenalnya jatuh hati padanya. Ia sangat hafal ketika ada temannya yang tidak masuk sekolah. Dan tak segan Ken bertanya kepada setiap guru yang dijumpainya.

Suatu hari, tepatnya di hari Selasa, Ken sangat bahagia melihat Abin masuk sekolah lagi setelah sepekan izin karena sakit.

“Teman-teman, lihat! Itu Abin masuk sekolah,” teriak Ken dengan rona ceria menyambut sahabatnya di ujung tangga kelas.

“Abin, kamu sudah sembuh?”

“Alhamdulillah, aku sudah sembuh,”

“Maafkan aku ya, Bin, aku belum menjenguk kamu lagi ke rumah…” Peluk hangat dua sahabat yang saling merindu. Ken memang memiliki hati tulus. Tak hanya simpati yang ia tunjukkan kepada orang lain, namun dengan usianya yang terbilang masih beliau ia mampu mencontohkan perilaku empati. Ken, Ibu semakin jatuh hati padamu.

Terkadang langit berwarna biru, awan putih, dan terlihat cerah. Tetapi, terkadang sebaliknya cahaya mentari bersembunyi di balik awan mendung. Seperti halnya hari ini, awan hitam tak mampu membendungnya lagi, ia menumpahkan airnya sedari subuh hingga kini. Apapun kondisi langit yang ditaqdirkan Allah adalah kebaikan. Cerah ataupun hujan Allah akan selalu mengirimkan kebahagiaan dan keceriaan.

Hari ini kita bisa memetik pelajaran dari seorang bocah berusia delapan tahun. Mereka mengajarkan kita untuk menghargai waktu. Kepercayaan dirinya patut kita contoh, yaitu memimpin dalam kebaikan penuh cinta. Menolong tanpa pilih kasih. Sungguh perbuatannya mengetuk hati.

Subhanallah… Guru kecilku itu pemilik hati selembut sutra.

Ya Allah, di sini hatiku telah terpikat. Terpikat dalam lingkaran kebaikan. Rumah-Mu ini menjadi saksi itu. Saksi setiap indraku memandang anak-anak perempuan dibingkai jilbab merah jambu, sedangkan anak laki-laki mengenakan peci berwarna putih. Berjama’ah, belajar ilmu Allah. Ah, indahnya sekolah ini, benar-benar berselimut keberkahan-Mu.

(Visited 9 times, 9 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply