Gadis Cantik Berbaju Merah Jambu

Bagian I

Serambi Masjid

Siang ini sepertinya matahari enggan menampakkan dirinya. Sedari pagi kota Bandung diguyur hujan. Kucuran airnya begitu deras, sesekali suara petir menggelegar membuat kota ini lengah dari para pejalan kaki. Padat merayap kendaraan roda empat menghias sepanjang jalan.

“Alhamdulillah, sepertinnya ada masjid di sana, waktu sudah menunjukkan pukul 16.35 sedangkan aku belum Shalat ‘Ashar.

Kakiku tiba-tiba terasa kaku tatkala melihat seorang gadis kecil berjilbab merah jambu yang terlihat lusuh membasuh air wudhu dengan terisak-isak. Siapa gerangan? Mengapa dia menangis? Dan dengan siapakah dia? Entahlah, mengapa aku penasaran dengannya?. Tanpa sadar aku memperhatikan gadis manis itu hingga masuk ke dalam Masjid. Dan…oh, ternyata dia sendirian, dimanakah kedua orang tuanya? Mengapa tega membiarkannya sendirian? Hati dan pikiranku berkelana saat itu. Astaghfirulloh…aku belum shalat, saking asyik berkelana memikirkan gadis itu aku lupa untuk melaksanakan Shalat ‘Ashar.

“Ya Allah, kata Pak Ustadz hanya Engkau yang bisa menyembuhkan sakitnya umma, sembuhkan Ya Allah, Keiz janji akan merawat Umma, aamiin.” Lantunan doa anak kecil itu begitu khusu’.

Tak terasa mataku berlinang mendengar suaranya yang lirih penuh harap, ingin rasanya diriku menarik tubuh mungilnya, memeluknya agar bebannya terasa ringan. Aiiih kenapa dia terburu-buru keluar dari masjid, padahal di luar sana hujan masih terlihat deras. Akupun penasaran segera melipat mukena yang masih membalut tubuhku. Alhamdulillah dia masih ada di sana, duduk seorang diri menatap kucuran-kuran air.

“Assalamu’alaikum….” sapaku sambil mendekat gadis berjilbab merah jambu.

“Wa’alaikumussalam…” suara gadis itu.

“Nak, bolehkah aku duduk di sini?” aku meminta izin sebagai tanda penghormatanku kepadanya dan setelah ada jawaban darinya aku duduk disampingnya. Ya, meski bukan suaranya yang aku dapatkan, melainkan hanya anggukan kepala, tapi cukuplah itu isyarat darinya.

Teringat di dalam tasku ada tiga buah apel yang belum sempat aku makan hari ini. Seperti biasa tas ini selalu ada bekal makanan sebagai cemilan menemani aktivitasku. Sakit magh yang aku derita membuat aku harus sebentar-sebentar makan sesuatu. Kukeluarkan dua buah apel pada gadis yang duduk disebelahku.

“Nak, makanlah, In Syaa Allah ini halal,” ku coba jelaskan padanya, karena apel itu hanya dipegang dan di masukkan kedalam tasnya.

“Terima kasih bu, ibu baik sekali, semoga Allah membalas kebaikkan ibu,” ucapannya dibarengi dengan sesegukkan.

“Nak, kenapa tidak dimakan apelnya? dan siapa namamu? Terus kenapa kamu sendirian?” Pertanyaan yang beruntun dariku membuat gadis ini terdiam membisu.

“Namaku Keiz, maaf bu, aku ingin memberikan apel ini untuk umma, umma suka apel,” gadis kecil ini mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya.

(Visited 35 times, 3 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply