Gadis Cantik Berbaju Merah Jambu

Bagian II

Ya Allah, miris sekali aku mendengar cerita gadis ini. Ternyata mereka hanya hidup berdua,  tiga tahun yang lalu ayahnya kembali ke pangkuan Illahi Robbi karena kecelakaan yang dialaminya. Saat ini ibunya sedang berbaring sakit di rumahnya. Inilah yang membuat gadis cantik ini melangitkan doa untuk kesembuhan umma. Dan apel itu, oh, anak yang baik, mengikat rasa lapar yang menyerangnya.

“Namaku Salsa, panggil aku Bunda Salsa,”  kuberikan sebuah apel lagi untuk dimakan.

Tak terasa senja datang setelah kurang lebih 75 menit kami duduk berbincang di serambi Masjid Al Jami’ dengan menikmati sepotong apel, itupun aku memaksa Keiz untuk makan. Perkenalan aku dengannya memang singkat, hanya 75 menit saja. Namun aku merasa punya kedekatan khusus dengannya. Mendengar kisahnya dada ini terasa sesak, usianya yang masih belia harus merasakan getirnya kehidupan. Malu hati ini yang sering mengeluh akan cobaan yang tidak seberapa dibanding dengannya..

Alhamdulillah, kucuran hujan telah reda, kemuning menampakkan diri, aku memutuskan izin kepada Mas Rama untuk menghantar Keiz pulang. Begitulah Mas Rama selalu mendukung dengan keputusan yang aku ambil. Dialah lelaki yang telah mendampingiku selama 11 tahun. Kasih sayangnya, kesabarannya, dan keikhlasannya adalah wujud cintanya kepada Sang Pencipta. 11 tahun dalam ikatan janji suci, sampai detik ini Allah belum memberi amanah anak kepada kami, namun Mas Rama selalu mengingatkanku untuk berhusnudzon kepada Allah, bahwa taqdir-Nya baik adanya.

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Keiz banyak menyimpan suara, berjalan tanpa kata. Hanya sesekali Keiz bersuara untuk menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba Keiz menghentikan ayunan langkahnya dan bertanya padaku,

“Bunda Salsa, kenapa baik sekali dengan Keiz?” Pertanyaanya sontak menghentikan langkahku.

Aku mencoba untuk menjawab pertanyaannya serta memberikan alasan kenapa kita harus berbuat baik terhadap sesama, termasuk dengan Keiz ataupun orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

“Terima kasih bunda, Umma juga sama, umma selalu menolong orang lain meskipun kita sendiri kesusahan,” jelas Keiz padaku.

Meskipun belum mengenal dan belum pernah melihat sosok wanita itu, aku yakin dia adalah wanita istimewa. Namun, tiba-tiba Keiz berlari menuju sebuah rumah tua yang dikerumuni orang. Akupun ikut berlari mengejarnya.

“Umma…ummaumma bangun, ini Keiz, umma…maafkan Keiz, harusnya Keiz tidak pergi meninggalkan umma sendirian, umma ayo bangun.”

Tangisan Keiz begitu menyakitkan, terasa menyayat tubuhku. Keiz terus membangunkan wanita separuh baya tersebut, wanita yang tak berdaya berbaring di depannya. Akupun meminta tolong kepada orang yang ada disekitar untuk membawa ibunya Keiz ke mobil  terparkir di halaman masjid. Segera ku raih tubuh gadis kecil tersebut dan meyakinkan kalau ibunya akan baik-baik saja.

“Keiz dengarkan bunda, lihat bunda, nak. Kita akan bawa umma ke rumah sakit. In Syaa Allah umma akan baik-baik saja,” berharap pelukanku bisa membuat sedikit menenangkan jiwanya.

 

(Visited 36 times, 4 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply