Gadis Cantik Berbaju Merah Jambu

Bagian III

Rumah Sakit yang Menyayat

Dalam perjalanan tiada hentinya Keiz melantunkan ayat-ayat Allah. Subhanallah…suaranya sangat syahdu. Gadis ini pandai sekali mengaji, suaranya membuat bulu kuduku merinding. Masih tak percaya mata ini  mengenal sosok seorang gadis kecil yang usianya sekitar 7 tahun, namun  kehidupannya penuh cobaannya.

Waktu terus berjalan, jarum jam berputar tanpa lelah, begitu juga halnya denganku dan Keiz yang tanpa lelah menunggu meski waktu terasa lama. 120 menit berlalu terasa lambat sekali, dan akhirnya dokter keluar dari ruangan di mana sosok wanita bijak itu sedang dalam penanganan.

“Apakah anda keluarga pasien?”  Seorang dokter keluar dari pintu .

Benar dok, bagaimana keadaannya?” Spontan aku menjawabnya.

Dokter menjelaskan bahwa pasien tersebut dalam keadaan kritis dan menyarankan agar keluarga tetap berdoa dan bersabar, apapun yang terjadi nanti. Tiba-tiba salah seorang perawat keluar dari ruangan dan memanggil dokter. Dokter berlalu tanpa kata. Kugenggam erat tangan mungil Keiz yang masih menangis dengan menyebut-nyebut umma.

“Kreeeek maaf bu, pasien ingin bertemu dengan keluarganya, seorang perawat keluar menghampiri kami.“

Keiz memeluk umma sambil menangis. Aku mendekati wanita yang tak berdaya berbarinng di ranjang rumah sakit. Tanpa berkata satu katapun, tanganku ditarik dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya dan di dekatkan ke tangan Keiz sambil tersenyum. Dalam hitungan detik mata dan kakiku terasa berat melihat wanita dihadapanku ini. Ya Allah kuat aku, aku melihatnya. Melihat wanita ini memejamkan mata dengan menyebut nama-Mu.

Laa Ilaaha illallah Muhammaddarrasullullah…ucapan terakhirnya yang  dibarengi dengan senyuman dan diakhiri dengan tutup matanya selama-lamanya.

“Dokter….suster…” Teriakku sambil memeluk Keiz yang sedang menangis meronta.

Innalillahi wainna illaihi roojiuun, tepat jam 8 malam umma Keiz berpulang ke tempat yang lebih kekal. Keiz sangat terpukul atas kepergian orangtuanya. Kini dia hidup sebatang kara. Mungkin inilah rahasia yang Allah siapkan untukku dan Mas Rama.

“Keiz sayang,” Allah sangat sayang umma, Allah tidak ingin umma merasakan sakit, sekarang umma sudah tenang, dan sekarang ada bunda di sini yang akan menemani Keiz,” aku mencoba menguatkan Keiz.

“Assalamu’alaikum, sayang, suara lelaki yang tak asing  di belakangku tiba-tiba menyapa.

“Wa’alaikumussalam, Mas Rama,” jawabku sambil memeluk laki-laki di hadapanku.

“Oh ya mas, kenalkan ini Keiz, dan Keiz, ini Ayah Rama, suami bunda.” Mas Rama langsung memeluk gadis kecil yang ada dihadapannya.

“Nak, jangan takut, ada bunda dan ayah di sini yang akan menjagamu.

Maa Syaa Allah, ucapan Mas Rama membuatku semakin yakin bahwa ini taqdir Allah yang telah disiapkan untuk kami. Aku dan Mas Rama memutuskan  untuk berbagi peran. Aku menjaga Keiz dan Mas Rama mengurus administrasi agar jenasah almarhumah dapat dikebumikan.

(Visited 26 times, 3 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply