Equalize

Baru sempat berenang kembali setelah bertahun-tahun tertahan dengan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Jumat kali ini, saya sempatkan berenang bersama guru-guru. Program up grading wajib berkala dari prinsipiel. Saya beruntung mengikutinya walau baru pertama kali.

Pak Rifki menjadi pelatih renangnya. Guru muda potensial jebolan perikanan Yogya. Pantas saja “jago” berenangnya, gumam saya.

Saya sempat melihat ketidaknyamanan Pak Rifki menghadapi situasinya. Sebagai guru muda dari Yogya lagi. Banyak unggah ungguhnya. Saya mengerti maksudnya sehingga saya persilakan melatih kami ini. Tidak kalah loh kalau hanya adu tampang saja.

Nah pelajaran pertama tentang teknik pernapasan. Saya dan beberapa guru yang hadir belakangan terpaksa mengikuti prosedur dari awal. Berlatih menahan napas selama lima belas detik di dalam air, kemudian buang di atas permukaan. Demikian berulang seterusnya sebanyak tiga kali. Setelah itu bernapas pelan dan dalam, dengan cara ambil napas di atas permukaan dan buang di dalam air secara stabil hingga sepuluh kali. Tujuannya membiasakan pernapasan selama berenang agar tidak terlalu letih dan kehabisan tenaga.

Latihannya dengan melakukan equalize ke dasar kolam. Beruntung saya pernah mendapat pelajaran ini bersama Pak Bucho. Guru diving bersertifikat internasional. Aha, saya bisa. Teknik ini sebenarnya satu dari empat teknik freedive yang perlu diketahui oleh para diver. Setidaknya begitu kata Pak Bucho. Sifatnya hierarki. Menguasai teknik pertama kemudian bertahap hingga teknik keempat.

Pertama adalah menyelam tanpa alat bantu pernapasan atau breath up dalam bahasa kerennya. Teknik ini sebenarnya berasal dari teknik apnea, artinya berhentinya proses pernapasan dalam waktu singkat. Caranya dengan menghirup napas selama tiga kali berturut-turut dan menghembuskannya dalam enam kali berturut-turut. Tujuannya agar paru-paru terbiasa dengan kadar karbon dioksida di dalam darah.

Kedua adalah teknik duck diving, yaitu cara masuk ke dalam air secara sempurna. Langsung menyelam begitu masuk ke dalam air. Tujuannya mengurangi gerakan yang tidak diperlukan sekaligus meminimalisir penggunaan oksigen.

Nah equalize adalah teknik selanjutnya yang lebih advance. Tujuannya membantu mendorong tekanan pada telinga. Perlu latihan beberapa kali. Ada orang yang mampu melakukan teknik ini hanya dengan membuka rahang atau menggesekkan giginya. Sementara orang lainnya perlu menekan hidung dan menghembuskan napas agar udara mendesak gendang telinga.

Teknik terakhir adalah finning. Teknik ini adalah memaksimalkan seluruh gerakan menyelam karena menggantungkan pada cadangan oksigen yang tersisa. Terus terang, saya belum mendapat pelatihannya. Pastinya membutuhkan latihan yang intens. Kapan-kapan bisa saya coba.

Semangat ya.

 

Kang Yudha

 

Sumber gambar: http://edelweisme.blogspot.com/2016/04/

(Visited 5 times, 5 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply