Donat Istimewa Istriku

Saat aku menyelesaikan editan naskah dari Kelas Bandung milik Bapak Ichsan Hidajat, istriku menawarkan panganan murah buatan rumah.

“Yah, mau dibuatkan donat, gak?”

Aku masih bergeming di depan meja kerjaku. Masih terpukau dengan calon buku, “Sudahlah Nak, Jangan Sekolah!” Buku luar biasa menurutku. Seorang guru reguler membeberkan fakta berdasarkan pengalaman mengajar dan data update dari informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sungguh tidak mengira. Belum pernah aku mendapat guru sekritis ini selama mengedit berpuluh-puluh calon buku dari para guru se-Indonesia. Selain kritis, tulisannya pun berbobot. Ini yang membuat aku berkonsentrasi penuh untuk mengeditnya. Berkali-kali aku membuka KBBI V dan mencari tambahan perubahan bahasa dari buku “Satu Kata mediaguru”, bukunya maestro media guru.

Aku berdecak kagum mengingat secara penulisannya, lumayan rapi. Sangat memperhatikan ejaan dengan kalimat yang membius dan menyindir halus lembaga pendidikan yang bernama sekolah.

Coba saja perhatikan kalimat menggelitik berikut ini. “Bagaimana dengan dunia sekolah? Apakah sekolah-sekolah kita sudah memiliki keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif? Sudah layakkah sebutan “pusat keunggulan” dinisbatkan kepada sekolah-sekolah kita?”

Seakan penulis ingin mempertanyakan pada diri sendiri dan rekan-rekan sesama pendidik. Sudah pantaskah sekolah menjadi center for excellence?

Seperti ditampar bolak-balik sebenarnya. Aku yang berprofesi serupa juga akhirnya bertanya. Sudahkah aku?

“Yah, mau dibuatkan donat, gak?” istriku bertanya ulang dengan nada lebih tinggi.

“Oh ya tentu dong,” jawabku mengurangi emosinya karena sejak tadi hanya fokus dengan laptop.

Kini perhatian sepenuhnya untuk istriku.

“Donat seperti biasa kan? Gak pake bantet. Jangan lupa yang di tengahnya bolong ya,” candaku memperbaiki suasana.

Sebentar kemudian terdengar sedikit gaduh dari meja makan. Mulai dari menimbang tepung, mencampurnya dengan telur, gula, dan mentega. Tidak lupa menggunakan fermipan sebagai pengembang. Ditambah susu seperlunya untuk memberi rasa manis yang legit. Kemudian tunggu sejenak agar fermipan berfungsi.

“Sempurna sudah. Tinggal goreng di minyak panas dengan api kecil.”

Sebentar kemudian. “Sedikit saja apinya,” istriku menginstruksikan ukuran besaran api di kompor pada si sulung.

Alamak, wangi donatnya membuat perut ini berontak. Lapar. Apalagi jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.45. Mendekati Dhuhur.

“Sudah matang belum!” teriakku dari ruang kerja, lupa dengan bahasan keunggulan komparatif dan kompetitif yang sedang diedit.

Biarlah, kupilih menunaikan kewajiban mengisi perut yang semakin keroncongan ini. Sebuah, dua buah donat kulahap tak bersisa. Tidak terasa azan Dhuhur berkumandang. Selepas itu, kubergegas berangkat ke masjid terdekat. Setidaknya dua donat istimewa istriku telah mengendap, mengganjal lambungku.

 

Kang Yudha

Sumber foto: https://cookpad.com/id/resep/1666241-donat-kentang-fatmah-bahalwan

(Visited 10 times, 1 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply