Curah Hujan yang Bersahabat

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.”

Mencermati Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Pusat yang meminta masyarakat untuk waspada terhadap peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia adalah wajar.

Penjelasan Deputi Bidang Meteorologi, Drs. Mulyono R. Prabowo, M.Sc bahwa ada peningkatan curah hujan. Disebabkan oleh melemahnya aktivitas aliran massa udara kering dari Australia. Juga terbentuknya area pertemuan angin di wilayah Jawa. Masih adanya pola sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Perairan Barat Sumatera, Kalimantan, dan Perairan Kepulauan Natuna.

Hal ini mengakibatkan curah hujan di wilayah Sumatera dan Kalimantan hingga saat ini masih tinggi intensitasnya. Ada peningkatan kelembapan udara di wilayah Jawa. Tentunya dapat menyebabkan hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang di sekitar wilayah Indonesia dalam periode beberapa hari ke depan.

Saya berpikir tentang hujan itu sendiri. Banyak orang khawatir tentang hempasan airnya yang membuat sulit manusia. Takut terjadi banjir bandang dan longsor pada bukit-bukit di sepanjang pulau-pulau yang tersebar luas di Indonesia bahkan di seantero dunia.

Padahal jelas-jelas Allah berfirman di dalam Alquran Surat An Nur ayat 43, dengan menunjukkan kebesaran ilmu-Nya dan menjelaskan proses hujan, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

Jadi siapakah sebenarnya yang merusak alam? Manusia ataukah curah hujan yang lebat? Kesalahan siapa jika hujan tidak diantisipasi? Siapa yang membuang sampah di sungai atau di jalan-jalan? Siapa yang melakukan penebangan liar sehingga gundul tidak bersisa tumbuhan? Siapa yang tidak ramah terhadap alam? Siapa yang membiarkan kerusakan di muka bumi?

Maka perlu direnungkan kembali. Jangan bermain menyalahkan hujan. Jangan main-main dengan alam. Mari perhatikan ayat-ayat Tuhan yang sudah memberi peringatan sedari awal. Jangan menentang alam.

Mari nikmati kebersamaan dengan curah hujan yang sebentar lagi diturunkan lebih lebat lagi. Hujan adalah sahabat, karena memberi keberkahan jika manusia mengetahuinya.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://sains.kompas.com/read/2018/11/05/162935323/bmkg-curah-hujan-meningkat-lokasi-ini-harap-waspada

(Visited 9 times, 9 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply