CERITA RUANG SENDIRI

Adakah saat dimana kejadian yang kita alami tidak dialami oleh orang lain dan saking berkesannya pengalaman itu tak sabar rasanya ingin berbagi dengan orang lain?

Tak terhitung mungkin banyaknya pengalaman kita sebagai manusia yang menimbulkan kesan mendalam dan membuat kita ingin membaginya segera dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman yang membuat kita senang, berharga maupun pengalaman yang tidak menyenangkan yang jika boleh memilih rasanya tidak ingin berada pada situasi itu lagi.

Bagaimana jika kejadian yang kita alami dan membuat kita ingin bercerita dengan orang lain mendapatkan respon dari orang lain tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Menggebu-gebunya hasrat bercerita ternyata perlahan hilang ketika orang yang dihadapan kita sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Atau justru respon yang terlalu awal yang membuat kita belum memulai orang yang akan kita ceritakan sudah mengetahui lebih banyak tentang kejadian itu. Mungkin rasanya sama seperti ketika menonton film atau membaca buku pada bagian seru-serunya tiba-tiba ada orang yang bercerita bagaimana akhir cerita dari film atau buku itu.

Menjadi manusia di era digital membuat hitungan terlambatnya penyebaran berita bukan lagi hari tetapi hitungannya menit bahkan detik. Era ini membuat laju informasi begitu cepat sehingga menunggu dalam hitungan jam bahkan hari menjadi sangat lama. Sehingga jika bisa apa yang dialami oleh orang lain dalam hitungan detik seluruh dunia harus tahu. Membuat tingginya keinginan untuk mengunggah dokumentasi dari kegiatan sebelum kegiatan itu selesai.

Ketika orang tua melepas anaknya ikut kegiatan, rasa ingin tahu orang tua tentang apa yang dialami oleh anak sangat tinggi. Saking tingginya rasa ingin tahu itu, menunggu cerita dari anak ketika dia selesai mengikuti kegiatan terkadang terlalu lama, seolah sudah kehilangan momen. Ini membuat orang tua akan mencari cara untuk mengetahui apa yang dialami oleh anaknya di seberang sana. Unggahan foto-foto kegiatan beredar di media sosial orang tua menjadi sangat banyak yang didapat dari mana saja, memberikan gambaran kepada dunia apa yang sedang dialami oleh sang anak.

Terkadang memunculkan rasa sedih ketika tak satupun foto anak terlihat dari semua foto yang ada. Mau tidak mau harus menunggu sang anak pulang untuk mendengar apa yang terjadi dan dialaminya, bersabar.

Tanpa kita sadari ketika tak ada satupun foto yang bercerita tentang apa yang dialami anak, ada ruang sendiri yang dialaminya dan menjadikan hal yang akan diceritakannya kepada kita. Cerita yang bisa jadi tidak selesai-selesai diiringi dengan ekspresi yang beragam yang berganti sesuai dengan emosi yang mengiringi pengalaman itu. Apapun pengalamannya bisa jadi semangat bercerita itu sangat menggebu-gebu dengan ekspresi senang yang tak kunjung hilang. Pengalaman menyenangkan maupun tidak tetap diceritakan dengan ekspresi berbinar karena adanya dorongan hormon kebahagiaan.

Ruang sendiri, ruang yang membuat kita membagi cerita karena hanya kita yang mengalami hal itu. Ruang yang membuat tumbuhnya keinginan untuk berbagi pengalaman. Ruang yang mendorong kita berbagi rasa agar orang lain tahu betapa serunya yang telah kita lalui. Ruang yang kadang cukup untuk kita alami sendiri, membuat kita memiliki cerita yang berbeda dari orang lain.

(Visited 52 times, 5 visits today)
Meutia

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Meutia

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

Leave a Reply