Celotehan Anak Millenial

Malam sebelum tidur seringkali menjadi waktu utama saya dan kedua bocah di rumah untuk saling menautkan hati. Tak terkecuali malam di saat kantuk mulai melanda. Ada hak mereka yang masih harus saya tunaikan. Usai mendengarkan bacaan sejarah Nabi Muhammmad saw, biasanya mereka akan saling mencurahkan isi hati. Kali ini tema yang diambil tentang penelitian kakak. Meski ini bukan pertama kalinya kakak -yang kini duduk di bangku kelas 8- mengadakan penelitian sebagai tugas dari sekolah, tetapi ternyata membuatnya cukup kelimpungan. Adu gagasan pun kami lakukan malam itu.
“Ummi, aku ingin secondary idea tugasku bertema : Menetralisir Efek Formalin Bagi Tubuh.”
“Nah, itu bagus Nak. Kelihatannya lebih orisinal jika dibandingkan judul pertamamu.”
Beberapa hari sebelumnya kakak memang telah melontarkan ide tentang bagaimana menggunakan daun binahong sebagai obat alternatif. Tampaknya dia kurang menjiwai judul ini karena dia sudah mendapati banyak penelitian serupa yang bertebaran referensinya di internet.
Perbincangan kami berlanjut malam itu. Tiba-tiba adik memunculkan ide brilian.
“Kalau aku pinginnya bikin lampu di atas solar cell, jadi berlapis begitu.”
Wah, masya Allah saya sempat terheran mendengar cetusan ide adik yang nyatanya baru duduk di bangku kelas 5 SD. Imajinasinya sudah cukup berkembang, meski saya lebih sering melihatnya bermain dengan gawai.
“Itu mah sudah ada. Kamu tahu, yang keren itu idenya kakak kelas, bikin penelitian tentang listrik dari tomat”, kakak menimpali ide adiknya.
“Oh, iya itu kan yang kemarin masuk di ajang penelitian tingkat internasional”, saya berusaha menengahi percakapan keduanya.
“Nah, kalau begitu Kakak bikin aja penelitian tentang listrik dari kulit singkong”,tiba-tiba adik menimpali lagi dengan cetusan ide briliian yang lain.
“Memang bisa ya, Umi?” Saya tercekat. Ide tentang sumber listrik dari biomassa -sampah organik- baru saya dapatkan ketika Kerja Praktek di BPPT beberapa tahun silam. Tepatnya saat saya sudah duduk di bangku perkuliahan. Dan ternyata sekarang anak SD sudah ingin meneliti hal yang sama. Olala, percepatan teknologi yang luar biasa.
“Bisa, insya Allah. Namanya biomassa, sumber listrik yang berasal dari sampah organik.”
“Dibikin gula dulu ya?” Ah, anak-anak ternyata ingin dituntaskan rasa penasarannya.
“Bukan Nak, ada reaksi kimianya. Kapan-kapan insyaa Allah Umi jelaskan. Sekarang tidur dulu ya.”
“Kalau aku, pingin bikin pintu yang pakai sensor suara”,sebelum terlelap,adik masih meneruskan celoteh imajinasinya.
Saya cukup terpengarah dengan berbagai pertanyaan anak-anak millenial ini. Selain malam telah larut, alasan terkuat saya menunda jawaban adalah karena saya pun masih harus membuka-buka kembali referensi tentang biomassa.
Benar adanya bahwa pendidikan seorang ibu tak hanya diperlukan untuk kemanfaatan di luar, tetapi yang lebih utama adalah untuk membekali ilmu pengetahuan anak-anaknya di rumah.

(Visited 31 times, 2 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.