Canda dan Candu

” Ah, saya kan cuman bercanda, Bu. Masa’ sih, begitu saja dia tersinggung”, cetus salah seorang siswa kepada gurunya ketika guru ini menanyakan adakah yang pernah merasa mem-bully temannya.
Benarkah interaksi dalam konteks bercanda bisa mempengaruhi emosi lawan bicara kita? Atau jangan-jangan lawan bicara kita yang terlalu perasa – baca sensitif- red, sehingga sedikit saja kita bercanda padanya membuat dia jadi marah.
Canda dan candu memiliki kemiripan dalam pengucapan, namun memiliki perbedaan arti yang sangat jauh. Jika canda lebih mendekati kepada bentuk perilaku atau ucapan yang digunakan untuk mengundang tawa dan senyuman, sedangkan candu menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti kegemaran. Lantas bagaimana keterkaitan antara keduanya? Ternyata perilaku yang mengundang tawa atau canda ini bisa menjadi kegemaran bagi seseorang, terutama bila perilaku ini mengakibatkan sasaran candanya menjadi marah atau bersedih. Dengan kata lain, sasaran ini akan menjadi obyek perilaku secara terus menerus yang menimbulkan tawa di sekeliling, bila tak ada perlawanan ataupun menunjukkkan reaksi seperti yang diharapkan.
Sangat miris bukan, bila kemudian perilaku yang dianggap sebagai hiburan ini di belakang hari menimbulkan dampak yang negatif bagi sasaran canda yang tak berdaya. Perasaan sedih yang tersimpan kuat akan menjadi sebuah beban mental bagi siapa saja yang mengalaminya.
Bagaimana Islam mengatur canda ini? Islam tidak pernah menjadi musuh yang menguasai tabiat manusia; memerangi dan menekan tabiat manusia. Akan tetapi Islam adalah agama yang berinteraksi dengan tabiat kemanusiaan yang sesuai dengan fitrahnya yang lurus dan benar; berjalan seiring tanpa terlalu membebaskan atau menekan.
Islam, dalam hal ini Rasulullah saw tidak pernah melarang canda ataupun gurauan, namun semua ada etika dan aturannya.
Etika bercanda dalam Islam :
1.Canda tersebut tidak untuk menjatuhkan orang lain. Biasanya canda yang seperti ini bentuknya berupa ejekan dan olok-olok.
Al ghazali berkata, “Makna olok-olok adalah merendahkan, menghina, menunjukkan cacat dan kekurangan orang lain dengan cara mentertawakannya lewat perbuatan atau ucapan, dengan isyarat dan menunjuk langsung.”
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan, seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS. Al Hujurat : 11)
2. Tidak mengandung unsur dusta di dalamnya
Rasulullah saw bersabda, ” Aku adalah penjamin rumah di tengah surga, bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun bercanda. ” (HR. Abu Dawud)
3. Canda tersebut bertujuan untuk hiburan dan menenangkan jiwa, mempererat persahabatan dan menjalin kasih sayang dalam pergaulan.
Sesungguhnya hati itu tidak suka kepada kekerasan, meskipun orang itu bertakwa. Akan tetapi hati menyukai canda dan gurauan dari orang lain.

Dalam kitab Al Mirah fi Al mizah karya Baduddin Abul barakat Muhammad Al Ghizzzi disebutkan, ” Dianjurkan agar bercanda diantara para saudara dan teman, karena itu menghibur hati dan memudahkan tujuan. dengan syarat tidak melontarkan suatu tuduhan, tidak menjatuhkan wibawa, tidak mengurangi kehormatan, tidak keji sehingga menyebabkan permusuhan dan menggerakkan sifat dengki. ”
Semoga kita dapat mengajarkan anak-anak untuk bercanda yang tetap mengedapankan akhlak dan etika.

Referensi : Semua Ada Saatnya, karya Syaikh Mahmud Al-Mishri, penerjemah : ust. Abdul Somad, Lc, MA

(Visited 56 times, 2 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply