Boleh Takut tetapi Tetap Mencoba

Hari itu hari Kamis. Waktunya Outbound untuk siswa SD SAI Cibinong. Anak kelas I sampai III SD bermain Two Line Bridge (High Impact), sedangkan anak kelas IV dan V bermain Blind Lead (Low Impact).

Yang namanya Outbound, ada saja anak yang takut, menangis, atau mogok sebentar sambil meregulasi emosinya. Wajar rasa takut timbul, karena jarak tali dengan tanah saja sudah berapa meter. Saya sendiri bisa memahami perasaan anak-anak karena sempat mencoba mencoba outbound high rope. Ketika sampai di atas, ketakutan melanda saya, apalagi ketika melihat ke bawah. Ngeri!

Anak-anak boleh takut. Namun, ketakutan itu jangan sampai membuat anak-anak tidak mau mencoba outbound. Tantangan tetap harus dilewati. Dan lagi, outbound ini aman, karena ada guru-guru yang mengawasi.

Tugas saya kali ini adalah mendokumentasikan anak-anak yang sedang melakukan outbound. Alhamdulillah outbound sejauh ini berjalan lancar. Anak-anak yang mencobanya hampir tidak menangis. Namun, di tengah-tengah outbound, ada satu anak yang menangis. Dari mulai di bawah, sebelum menaiki tangga, sudah terlihat wajahnya pias. Ketika meniti tali, Sang Anak terus menangis sambil berjalan pelan-pelan.

Di saat saya dan rekan-rekan guru berusaha menyemangati anak tersebut, Gavan menghampiri saya. Gavan adalah siswa kelas V SD. Dia sudah selesai bermain Blind Lead.

“Ada apa, Bang?”, tanya saya.

“Aku mau bantu, Miss”, jawabnya sambil mengeluarkan senyum khasnya.

Apa yang bisa dilakukan oleh Gavan? ­Gumam saya dalam hati. Belay sudah dikerjakan oleh guru laki-laki. Dokumentasi dikerjakan oleh saya.

“Aku mau tangkap anak SD II yang turun dari outbound”, jelasnya menjawab keraguan saya.

Yang dimaksud Gavan dengan menangkap adalah, setelah anak sampai ke ujung tali, dia harus turun dengan cara melompat perlahan ke bawah (ini tentu saja aman, karena anak terhubung dengan belay yang ditarik oleh Bapak Guru). Nah sebelum menyentuh tanah, si anak akan ditangkap terlebih dahulu oleh Gavan.

Allah mengaruniai Gavan dengan tubuh yang besar dan kuat. Jadi tidak masalah bagi Gavan menangkap tubuh adik-adik kelasnya yang notabene bertubuh lebih kecil darinya. Dia pun sigap melakukan tugasnya sambil tersenyum tulus.

HAP!

Sambil menunggu adiknya turun, Gavan sempat berkata kepada saya.

“Boleh kok takut. Tapi kan harus tetap mencoba!”

“Iya betul itu, Bang!”, balas saya.

Sudah beberapa anak dia bantu tangkap. Sebentar lagi giliran anak perempuan.

“Aku tidak mau menangkap anak perempuan, Miss. Soalnya aku kan tidak boleh menyentuh perempuan!”

Saya terharu. Alhamdulillah, meskipun belum baligh, dia sudah memahami dkonsep mahram. Bahwa dia tidak boleh menyentuh perempuan selain mahramnya.

Sungguh, outbound hari itu berkesan bagi saya karena ada Gavan. Kepedulian terhadap adik-adiknya dan pemahamannya mengenai mahram membuat saya kagum.

Maa syaa Allah.. Barakallahu fiik, Bang!

(Visited 24 times, 4 visits today)

One thought on “Boleh Takut tetapi Tetap Mencoba

  • October 1, 2017 at 13:15
    Permalink

    Masya Allah Abang Gavan

    Reply

Leave a Reply