Bintang

Tik…tik…tik…. Hujan mengguyur perbatasan kota bagian barat Jawa dengan selatan kota Jakarta dari semalam. Hawa dingin masih setia memeluknya. Ditambah lagi roda dua yang kukendarai melaju dengan cepat menuju kampus Universitas Indonesia. Dingin semakin menembus pori-pori. Embun yang masih bergelantungan di setiap tangkai pepohonan dan merdunya kicauan burung camar membingkai indah suasana alam pagi. Mungkin hal ini yang membuat mentari malu-malu menyebarkan kehangatannya. MasyaAllah, Taqdir-Nya memang selalu baik dan lukisan-Nya tiada yang mampu menandingi.

Alhamdulillah, Allah menuntun perjalanan dengan selamat. Dzikir yang membersamai sepanjang perjalanan adalah wujud syukur atas penjagaan-Nya. Tujuh belas menit tiga belas detik kendaraan dapat terparkir rapi.

“Assalamu’alaikum.” Seperti bermimpi mendengar sapaan yang jaraknya sangat dekat. Tapi bagaimana mungkin aku bermimpi, sedangkan aku tidak tertidur, aku nyata berdiri dan masih merasakan hawa dingin.

“Wa’alaikumusalam.” Dengan membalikkan badan aku menjawab salam tersebut. Ah, suara itu memang benar, bukan ilusi ataupun mimpi. Wujudnya ada di depanku, tampannya dia memakai kaus berwarna hitam tersenyum manis dan mencium punggung tanganku. Terlalu pagi untukmu datang ke tempat ini, Nak! Gumamku tanpa terdengar sosok anak laki-laki yang masih mengembangkan senyumannya.

Sabtu, 24 Maret 2018 adalah salah satu hari yang spesial untuk komunitas Sekolah Alam Indonesia, selebrasi “Socio Drama” yang diikuti oleh siswa/i KBTK sampai SL.  Kegiatan yang telah dirancang dengan segala doa dan usaha selama tiga bulan dan berlangsung di Kampus Universitas Indonesia, Depok.

“Bu guru, aku sudah tidak sabar untuk tampil di panggung,” Gi tetiba berceloteh dengan caranya yang unik. Ah, celotehmu sungguh memberi cahaya. Gi, kamu adalah salah satu bintang yang menerangi ruang hati. Desahku.

Aku dan Gi terus bercerita ringan di bawah pohon rindang. Sesekali kami bersenandung sebuah lagu yang berjudul “Syair Al Fatih”. Gelak tawa terlukis bersama hembusan angin yang menyapu dedaunan. Satu demi satu sang bintang pun datang. Pagi menjadi lebih terang, seterang asaku yang semakin membumbung.

Akhirnya arloji di lengan kiriku memberi kabar. Detik penantian menyambut sang bintang satu persatu menampilkan karya terbaiknya.

“Sabar ya, Gi, tunggu kelas kita dipanggil!” Pak Ale yang juga sudah siap memakai kostum kebesaran seorang raja menghampirinya. Gi nampak siap memasuki panggung. Lain halnya dengan Callys yang merasakan demam panggung, entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke toilet.  Aiih lucunya tingkah para bintang ini.

Takjub. Tubuhku bergeming, seluruh inderaku terpana dibuatnya. Bulir-bulir bening tak terbendung dari netraku. Gi dan teman-teman mampu menyuguhkan sebuah drama di hadapan ratusan penonton. Di luar gedung rinai hujan membersamainya, mengalirkan aura positif.

Bait-bait doa yang dipinta telah terijabah. Rangkaian kegiatan dari pagi sendu hingga mentari berani menunjukkan kehangatannya. Berjalan seperti roda dalam doa dan harapan menjadi kenyataan. Gi, Callys, dan teman-teman lainnya adalah bintang-bintang yang ada di Sekolah Alam Indonesia yang menerangi ruang-ruang khusus, yaitu bernama hati.

Terima kasih Allah atas bintang yang Engkau kirim,  sembah sujud syukur pada-Mu.

(Visited 18 times, 4 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply