Bimbing Aku dengan Cinta-Mu

Cintailah Tuhanmu, maka Tuhanmu akan mencintaimu. Bagi saya kalimat ini ibarat cambuk yang siap mencambuk saya kapanpun dia mau. Bagaimana saya dicintai oleh-Nya jika saya sebagai hamba tidak mau menghamba pada-Nya. Kalimat inilah yang sering menghampiri, menyelinap dalam hati, dan pastinya sebagai pengingat diri agar mampu menggapai cinta-Nya.

Bimbing Aku dengan Cinta-Mu

Wahai Sang Pemilik Cinta katakanlah pada hamba.

Bagaimana caranya agar cinta-Mu selalu ku dekap?

Bagaimana caranya agar cinta-Mu itu tak lari dari pelukku?

Katakanlah padaku yang selalu merindu-Mu, bagaimana?

 

Duhai Sang Empunya Kasih.

Ijinkan kasih-Mu mengalir bagai telaga kautsar.

Ijinkan hamba meminum airnya bersama kekasih-Mu.

Yaitu di telaga yang penuh dengan bejana sejumlah bintang di angkasa.

 

Namun…

Mungkinkah kudapat merasinya dengan tanpa bimbingan cinta-Mu?

Mungkinkah kumenjadi hamba yang terpilih untuk dapat meminumnya?

Atau bahkan hamba tak diijinkan untuk mendekatnya? Na’udzubillah… Astaghfirullah…

 

Kuakui, dalam perjalanan meniti hidup.

Terkadang ragu kerap mendera.

Bimbang menyelinap dari balik desir angin hingga  kaki terperangkap dalam keraguan.

Ah…tentu itu tak akan terjadi jika cinta-Mu mampu kudekap.

 

Malam ini begitu sunyi.

Andaikan sebutir embun jatuh saat ini, pasti terdengar, tees…

Namun, hanya suara dzikir yang dapat terdengar.

Memanggil-manggil nama-Mu Sang Pemilik Hati.

 

Wahai Pemilik Qalbu…

Asma-Mu selalu ku sebut-sebut di setiap sujud.

Engkau pun tahu hamba berhimpun dalam cinta pada-Mu.

Bimbing hamba agar mampu meraihnya.

 

Sesungguhnya…

Engkau Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonan tanpa mengurangi karunia lainnya.

Dan bilakah cinta-Mu telah memanggil menghampiri.

Pasti jalan yang berliku dan terjal mampu terlewati.

 

Dengan setitik cinta menjadi lautan cinta yang Kau beri.

Dengan ampunan yang Kau hujani, kasih sayang pasti mampu ku raih.

Cahaya kemuliaan-Mu akan menghantar kepada cinta-Mu.

Bersanding mesra di bawah naungan pepohonan Firdaus-Mu.

 

 

(Visited 133 times, 3 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.