Berbeda

Kakiku bergegas menuju kelas. Pagi ini adalah outing pertama di SD 4, kami akan mengunjungi Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Setelah melewati gerbang sekolah, mulai terlihat anak-anak berbaju batik rapi, memakai sepatu bertali lengkap dengan kaos kaki. Wah… pemandangan yang tak biasa bagi kami di Sekolah Alam Indonesia, karena para siswa biasanya memakai kaos dan bersepatu boots

Siswa SD 4 berlarian menghampiri ketika melihatku menuju kelas, mereka berebut untuk salaman. Assalammualaikum.. semoga keselamatan selalu bersamamu.. kalimat yang penuh kesejukan di pagi hari yang senantiasa akan dirindukan. Kami pun bersama memasuki kelas untuk kegiatan buka kelas

Semua siswa duduk berbaris di depanku. Benarkah sudah semuanya ? tunggu dulu, sepertinya aku melihat sesosok anak yang mengintip dari celah kayu kelas sebelah. Siapa itu ? pikirku. Oh.. itu Ihsan, tapi mengapa dia diam disana ya ? Kapten kelas dengan sigap langsung memimpin buka kelas. Mengalunlah dzikir Al-Ma’tsurat yang setia menemani kami setiap pagi namun Ihsan tetap tidak beranjak dari kelas sebelah. Karena penasaran, akupun bertanya pada salah satu anak perempuan dikelas

Setengah berbisik, ia menjelaskan bahwa Ihsan tidak memakai sepatu bertali seperti yang diminta kemarin sehingga ia merasa sedih karena teman-temannya menganggap ia tidak melaksanakan apa yang ditugaskan oleh guru. Ooh.. ternyata itu masalahnya ya…

Akupun melangkah ke kelas sebelah. Disana Ihsan duduk terisak sambil memegang lututnya. “Kenapa Ihsan tidak ikut bergabung buka kelas disana?” tanyaku. Mendengar pertanyaanku, isaknya pun makin keras, “Maafkan Aku, Bu… Aku tidak memakai sepatu bertali seperti yang ditugaskan kemarin” Jawabnya sambil menangis.

“Oh, begitu.. kenapa Ihsan tidak memakai sepatu bertali ?” Tanyaku lagi.

“Ketika Aku lihat tadi pagi, ternyata sepatuku kotor dan belum dicuci. Jadi Aku tidak bisa memakainya maka aku memakai sandal gunung. Aku tidak sengaja, Bu. Maafkan Aku” Jawabnya. “Ya sudah tidak apa-apa, San, jika kamu tidak sengaja. Lain kali persiapannya harus lebih baik ya. Yuk kita ikut buka kelas bersama” sahutku. “Tapi nanti aku berbeda dengan teman-teman, Bu. Apakah tidak apa-apa ?” ucapnya meminta kepastian “Insya Allah teman-teman akan mengerti, San. Nanti aku bantu menjelaskan ya” Jawabku meyakinkannya.

Hari itu aku belajar bahwa ternyata berbeda dengan temannya merupakan suatu hal yang berat untuk anak-anak. mereka memerlukan bantuan orang dewasa untuk meyakinkan dirinya bahwa berbeda itu tidak berarti salah

(Visited 45 times, 1 visits today)

Ainun Nurul

Biasa dipanggil Ainun/Fitri. Lahir di tengah keluarga yang hangat di daerah sejuk Sukabumi, Jawa Barat. Menyukai Membaca, menulis, memasak dan travelling. Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia (SAI) sejak 2006. Sangat tertarik dengan pembinaan dan pendidikan anak remaja. Berdiskusi, dengarkan curhat dan jalan bareng para siswa menjadi kegiatan sehari-hari. Saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SL (Sekolah Lanjutan – Level SMP) SAI “We had a plan and Allah has also planned everything for us. If something goes wrong, it went wrong for good reason”

Leave a Reply

Your email address will not be published.