Beranda Belakang

Salah satu keinginan saya memiliki beranda belakang. Itu saja. Apalagi jika nyaman dengan dua bukaan pintu atas dan bawah. Meski rumah saya tidak berada di kampung yang sempit, tetapi bentuk kompleks perumahan yang didesain berhadap-hadapan dalam dua blok panjang. Sementara rumah-rumah dalam blok saling membelakangi. Bisa terbayang bukan? Rumah tanpa beranda belakang.

Jika saya diberi kesempatan memiliki hunian keluarga lagi, pasti akan saya pilih yang memiliki beranda belakang. Tidak terlalu luas pun tidak mengapa. Asal teduh yang membuat sejuk penghuninya. Ada kembang kertas berwarna merah terang untuk sekadar memberi bayangan dedaunan menghalangi sinar mentari langsung ke beranda. Ada bilah-bilah bambu yang ditanam berseberangan. Membiarkan angin berlari kejar di antara daun-daun lancip yang berbulu. Membuat gesekannya berderit memecah kesunyian.

Lantai berandanya disemen datar dengan warna alami abu-abu. Pastinya menambah kesan kokoh tapi sederhana. Belum lagi dinding papan kayu yang dipasang lurus berbaris sejajar dengan tekstur timbul tenggelam memberi nuansa teratur pemiliknya.

Satu lagi yang membuat saya terpesona. Saat membuka pintu ganda. Satu pintu bawah dengan motif silang yang terbuat dari kayu jati. Menunjukkan batas wilayah privasi bagi orang luar yang ingin masuk dari sisi belakang rumah. Satu pintu lagi berada pada bagian atasnya. Berkaca tembus pandang pada kedua belah sisinya. Hal ini tidak lain memberi kesempatan pada penghuni dan tamu untuk saling beramah tamah tapi tetap menjaga wilayah pribadinya. Apalagi dibalut dengan warna kuning, seakan siempunya rumah ingin berkata, “Salam kenal. Kami keluarga yang bersahabat. Selamat berjumpa dengan kami.”

Itu baru dari bagian luar rumah. Nah yang unik ingin saya persiapkan juga adalah bagian dalam yang terlihat dari luar melewati pintu transparannya. Tidak terlalu terbuka tapi bersahabat. Ada kotak-kotak lemari tempat keranjang-keranjang kecil seukuran kotak yang berbeda menghias isi lemarinya. Warna keranjang seirama dengan warna lemari. Cokelat dan putih menjadi warna persahabatan. Beberapa hiasan gantung terpampang pada dinding sisi kanannya. Berisi foto-foto keluarga masa kecil dari pemiliknya semakin memberi kesan kehangatan.

Ah, beranda belakang yang saya rindukan. Lebih hangat dan nyaman bagi penghuninya. Tempat berkumpul sambil membicarakan hal-hal ringan. Bisa juga bakar-bakar ikan atau ayam dengan diterangi bulan.

Semoga menjadi kenyataan.

 

Kang Yudha

 

Sumber foto: https://id.pinterest.com/pin/214976582189571284/

 

(Visited 10 times, 2 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply