Belajarlah dari Kehidupan, Bergurulah pada Pengalaman

Beberapa buku yang saya edit, menceritakan kehidupan masa kecil. Pengalaman yang tidak terlupa yang dituliskan sebagai pelajaran yang siap dibagikan kepada generasi muda. Ada pesan kuat di dalamnya tentang bagaimana menyikapi hidup lebih baik khususnya untuk anak cucu kelak.

Ada yang menceritakan sulitnya bersekolah karena tidak memiliki biaya. Berjualan membantu ibunya berkeliling kampung selepas sekolah atau terpaksa berjalan kaki sejauh 15 kilometer demi mengejar cita-cita. Melanjutkan pendidikan hingga di kota kabupaten dan tidur di masjid sebagai petugas kebersihan. Semua diceritakan dengan sangat dalam.

Saya jadi merenung tentang kehidupan yang lebih baik dari setiap harapan penulisnya. Apakah setelah membaca bukunya akan bisa mengubah pola pikir menjadi pribadi tangguh dan bermanfaat pada kehidupannya kelak? Seperti bunga kapuk yang dikumpulkan dan mengisi bantal-bantal di rumah. Bermanfaat karena digunakan sebagai alas kepala. Apakah tidak memberi efek apapun? Hanya sekadar tahu saja kemudian hilang bagai bunga kapuk tadi diterbangkan angin. Bertebaran di lapangan, di jalan, di mana saja mendaratnya. Tidak berguna, menjadi sampah.

Saya tentu memilih yang pertama. Seringkali orang tua memberi petuah, belajarlah dari kehidupan dan bergurulah pada pengalaman. Namun, pengalaman itu bersifat pribadi. Perlu dirasakan pahit getirnya. Bukankah penyesalan itu berada di akhir cerita? Menyesal kenapa tidak belajar sungguh-sungguh sehingga mendapat nilai seadanya. Menyesal kenapa tadi tidak mengindahkan ibu membawa payung sehingga kehujanan. Menyesal dan menyesal.

Apakah ada pelajaran di sana? Pasti. Karena berefek langsung. Jika jatuh untuk kedua kali maka benarlah kata orang kalau tidak belajar dari kehidupan dan tidak berguru pada pengalaman.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” Seruan yang keras dari Sang Pencipta dalam Alquran Surat Yusuf ayat 111, menyindir manusia yang sering jatuh di lubang yang sama. Seperti nasihat Bukhari dan Muslim bahwa seorang mukmin tidak tersengat pada lubang yang sama dua kali. Belajarlah dan mengambil pengalamannya.

Yuk, mari kita lebih memperhatikan nasihat orang bijak, para sesepuh, dan orang-orang pintar agar selamat dunia akherat.

Insya Allah.

 

Kang Yudha

(Visited 5 times, 1 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.