Belajar Sains Bersama Daun Pandan

“Teman-teman, hari ini kita akan memilih resep makanan yang akan kita buat esok hari, ya,” Bu Rifqah, salah satu guru percobaan yang sedang bertugas di kelas Cassava (ISTC) memberi penjelasan kepada anak-anak agar memilih satu dari dua resep yang telah disiapkan, yaitu bubur sumsum dan bubur ayam.

“Bubur sumsum saja, bu Rifqah,” Athira menjawab pilihannya.

“Waah…sepertinya itu enak, bu,” Nayla pun setuju dengan Athira untuk memilih bubur sumsum.

Setelah memilih, membahas, dan menulis resep bubur sumsum tersebut, tiba-tiba seorang anak lelaki dari samping kananku berceloteh.

“Bu Ari, bubur sumsumnya warna hijau, ya!” Fathi memberikan ide dengan spontan.

“Waaah…good idea, Fathi! Dengan raut wajah terkejut, kami sekelas memberi apresiasi padanya.

Setelah mendapat ide cemerlang dari Fathi, aku dan Bu Rifqah menstimulusnya dengan pertanyaan perihal warna hijau yang akan digunakan untuk memasak bubur tersebut, tentu saja pewarna alami yang ada di lingkungan sekitar.

“Bu guru, bagaimana kalau dengan daun pandan saja? setahu aku daun pandan menghasilkan warna hijau loh.” Gadis cantik berbaju merah jambu ini memberi ide yang tak kalah menarik.

“Iya bu guru, di depan kelas kita kan ada pohon daun pandan,” Nay memberikan informasi akan tumbuhan yang dimaksud.

Sesungguhnya dalam percakapan yang singkat ini terlukis bergelimang ilmu dari Sang Maha Pemberi Ilmu.

Dalam QS.Al’Alaq, wahyu Allah yang pertama kali diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Baginda Rasulullah SAW di Gua Hira, yaitu:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَالَّذِيخَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…(ayat 1)       

Disinilah kita belajar membaca sebuah isyarat di alam dunia yang Allah SWT berikan. Tanpa disadari, sesungguhnya mereka sedang menjalankan perintah-Nya “IQRA”. Selain belajar mengeluarkan sebuah gagasan, anak-anak belajar tentang ilmu sains, yaitu menciptakan pewarna hijau alami yang aman untuk kesehatan.

Bukanlah sebuah hasil yang pertama ingin dipetiknya, namun sebuah proses pembelajaran yang dilakukannya adalah harga termahal yang ingin dituai. Menyaksikan bagaimana mereka menjalankan tahapan demi tahapan. Dari proses memilih daun pandan yang akan dipetik, lalu menumbuknya, dan menjadi saksi bagaimana anak-anak mengolah sebagai pewarna hijau, serta melihat rautnya yang berseri-seri dalam memasak bubur sumsum.

“Asyiiik…bubur sumsumnya jadi berwarna hijau, Bu Ari,” celoteh Fathi ketika mengetahui perubahan warna tersebut.

“Hemmm…harumnya masakkan kalian,” beberapa bapak dan ibu guru pun singgah menghampiri dengan membawa rasa penasaran.

Maa Syaa Allah…dari satu tumbuhan saja, banyak sekali pelajaran dan manfaat yang kita peroleh, diantaranya adalah :

  1. Dapat menjadi pewarna alami
  2. Untuk mengharumkan masakkan
  3. Memberi efek ketenangan yang dihasilkan oleh zat tanin.

Demikian goresan qisah menginspirasi dari anak-anak ISTC. Menjaga, merawat, dan memanfaatkan ciptaan-Nya adalah kewajiban setiap insan sebagai wujud menghamba pada-Nya.

Terima kasih Allah atas setiap anugerah-Mu…

(Visited 42 times, 3 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply