Belajar Bertamu dari Rasulullah

Pagi ini langit terlihat cerah.
Nadia meminta izin kepada bunda dan ayah.
Ia ingin bermain ke rumah temannya bernama Rahmah.

“Ayah, Bunda, Nadia boleh ya main ke rumah Rahmah?” pinta Nadia.
“Iya, Nak, Nadia sudah bilang dengan Rahmah belum?” tanya bunda.
“Belum,” jawab Nadia dibarengi dengan gelengan kepala.
“Sini sayang,” panggil ayah.
“Sebaiknya Nadia izin dulu dengan Rahmah, telepon dulu pada Rahmah, Nak,” jelas ayah.
“Baik, Ayah,” jawab Nadia.

Ya, begitulah.
Bertamu ada akhlaknya dan ada caranya.
Rasulullah SAW mengajarkan pada kita sebagai umatnya.
Siapa saja yang ingin bertamu, hendaknya memohon izin.
Tidak bileh datang sebelum diizinkan.
Tidak boleh masuk sebelum ada jawaban.

Raaulullah SAW secara khusus pernah mengajarkan etika bertamu.
Yaitu kepada salah seorang sahabatnya bernama Jabir.

“Tok…tok…tok…” Jabir mengetuk rumah Rasulullah.
“Siapa?” tanya Rasulullah dari balik pintu rumah.
“Saya,” jawab Jabir.
“Saya, saya,” Rasulullah berujar.

Rasulullah SAW sangat senang.
Jika seseorang yang bertamu menyebutkan nama dan memgucap salam.
Dengan demikian, pemilik rumah tetap merasa nyaman.
Tamu pun dijamu dengan senang.

Seorang sahabat lain bernama Imran bin Husain pun berkisah.
Suatu hari ia diajak Rasulullah.
Yaitu pergi ke rumah Fatimah.

“Tok…tok…tok… Assalamu’alaikum,” ucap Rasulullah.
Rasulullah berdiri di depan pintu.
“Apakah saya diperbolehkan masuk?” tanya Rasulullah.
“Masuklah, wahai Rasulullah,” jawab Fatimah.
“Saya bersama yang lain,” jelas Rasulullah.
“Iya, boleh, masuklah,” jawab Fatimah.

Masyaa Allah, islam begitu mulia.
Rasulullah akhlaknya begitu mulia.
Memancarkan cahaya surga.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.